PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kota Pekalongan menyiapkan lahan sekitar lima hektare di kawasan Exit Tol Setono untuk Pembangunan Instalasi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Pekalongan Raya. Proyek ini digagas sebagai solusi regional pengelolaan sampah dengan pembiayaan penuh dari investor tanpa menggunakan APBD.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam penandatanganan pernyataan kesiapan oleh empat kepala daerah, yakni Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Pemalang, dan Kabupaten Batang, yang digelar Selasa, 24 Februari 2026 malam di Cin Long Restaurant, Jalan Dr. Soetomo, Baros–Dupan Square Complex, Pekalongan Timur.
Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid, atau yang akrab disapa Aaf, menyebut penandatanganan ini merupakan tahap lanjutan sebelum finalisasi bersama Gubernur Jawa Tengah.
“Ini penandatanganan lanjutan ya, surat kesiapan kita. Nanti next-nya masih ada satu tanda tangan lagi dengan Pak Gubernur. Ya, kalau itu sudah, berarti bisa langsung diproses. Mudah-mudahan secepatnya, karena permasalahan sampah ini kan masih menjadi hal yang kompleks di hampir semua daerah.” ujarnya usai kegiatan.
Ia menegaskan, seluruh pembiayaan proyek bersumber dari investor, termasuk armada pengangkut sampah.
“ini anggarannya non-APBD, semuanya dari investor. Murni dari investor, termasuk truk untuk pengangkut sampahnya, nanti juga ada bantuan dari mereka. Kita sudah dapat 10 atau 15 unit.” katanya.
Kota Pekalongan menyatakan kesiapan menjadi pusat lokasi pengolahan energi listrik tenaga sampah untuk wilayah Pekalongan Raya. Dari sisi tata ruang, lokasi dinilai memungkinkan sesuai RT-RW, tinggal dilakukan sosialisasi kepada masyarakat.
“Secara RT-RW (Rencana Tata Ruang Wilayah) bisa, tinggal sosialisasi ke masyarakat saja. Tapi bagaimana nanti sosialnya, penyampaiannya, dan programnya, itu yang penting. Karena ini bukan tempat pembuangan sampah maupun tempat pengolahan sampah biasa. Ini tempat pengolahan energi listrik tenaga sampah.” tegasnya.
Lokasi di sekitar Exit Tol Setono dipilih karena dinilai strategis dan mudah diakses dari arah Pemalang maupun Batang melalui tol dan jalur Pantura.
“Kurang lebih 5 hektar, ya dekat-dekat situlah. Kita masih ada beberapa alternatif milik Pemkot. Kalaupun ada pembebasan, semuanya ditanggung oleh pihak investor,” jelas Aaf.
Sebelumnya, opsi di wilayah Kabupaten Pekalongan sempat dipertimbangkan, namun akses jalan yang menjadi kendala.
“Kemarin sempat di Kabupaten Pekalongan, tapi pertimbangan dari PT Energi, aksesnya masuk jalan desa, masih sekitar 5 kilometer. Itu kan susah,” pungkas Aaf.
Sementara itu, Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro menegaskan komitmen daerahnya dalam kerja sama tersebut. Menurutnya, yang terpenting adalah skema layanan agar sampah dari Pemalang dapat terangkut ke fasilitas PSEL di Pekalongan.
“Yang paling penting layanan, supaya masalah sampah di Kabupaten Pemalang bisa terselesaikan melalui hadirnya L-Energy Green Solutions di Pekalongan,” ujarnya.
Sementara itu, Kabupaten Pemalang memproduksi sekitar 450 ton sampah per hari, dengan 140 hingga 150 ton berasal dari wilayah perkotaan. Volume tersebut dinilai akan memberi kontribusi signifikan terhadap operasional PSEL.
Ia juga mengakui adanya tantangan jarak bagi wilayah perbatasan seperti arah Purbalingga. Namun, pihak investor disebut siap “jemput bola” untuk memastikan sampah tetap terlayani dan terangkut ke lokasi pengolahan.
“Ya, kalau nanti ternyata masih kurang, tadi sudah sepakat, bagaimana caranya itu bisa kita kolek supaya bisa kita bawa ke sini,” pungkasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Sekar S





























