SALATIGA, Lingkarjateng.id – Di sebuah joglo sederhana milik warga Kota Salatiga, tersimpan lembaran-lembaran sejarah yang telah melintasi ratusan tahun perjalanan zaman. Sebagian di antaranya diperkirakan berusia hampir 700 tahun dan kini menjadi perhatian para pegiat pelestarian budaya.
Manuskrip-manuskrip kuno tersebut merupakan koleksi pribadi Gunawan Hardiwanto atau yang akrab disapa Iwan, warga Sidorejo Lor, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga. Selama bertahun-tahun, ia mengumpulkan berbagai naskah kuno dari sejumlah daerah di Indonesia dan menyimpannya di Joglo Ki Penjawi.
Di tengah terbatasnya akses masyarakat terhadap manuskrip kuno, Iwan justru membuka koleksi pribadinya untuk didigitalisasi. Langkah ini dilakukan agar isi dan pengetahuan yang tersimpan dalam naskah-naskah tersebut tetap lestari dan dapat dipelajari generasi mendatang.
Sebanyak 17 manuskrip kuno kini mulai didokumentasikan menggunakan standing scanner. Metode ini dipilih untuk meminimalkan risiko kerusakan pada naskah asli yang sebagian besar telah berusia ratusan tahun.
“Yang paling tua diperkirakan hampir 700 tahun, tetapi memang masih perlu penelitian lanjutan, termasuk dari ahli kertas,” ujar Iwan, Jumat, 29 Mei 2025.
Mayoritas manuskrip ditulis di atas kertas daluang, media tulis tradisional berbahan serat tanaman yang banyak digunakan pada masa lampau. Menurut Iwan, manuskrip kuno bukan sekadar benda antik bernilai koleksi, melainkan warisan pengetahuan yang merekam perkembangan budaya, agama, dan kehidupan masyarakat pada zamannya.
Salah satu koleksi yang paling menarik perhatian adalah sebuah kitab yang mengisahkan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW sejak masa kecil hingga dewasa. Manuskrip tersebut diperolehnya dari Lombok dan menjadi salah satu naskah yang dinilai memiliki nilai historis tinggi.
“Yang paling jauh saya dapat dari Lombok. Isinya tentang sejarah Nabi Muhammad mulai kecil sampai dewasa,” katanya.
Bagi Iwan, manuskrip kuno seharusnya tidak hanya disimpan dalam lemari koleksi. Publikasi dan digitalisasi justru menjadi langkah penting agar masyarakat dapat memahami sejarah, budaya, serta proses transfer ilmu pengetahuan yang berlangsung dari generasi ke generasi.
“Kalau punya kitab lama, menurut saya justru harus dipublikasikan supaya masyarakat bisa belajar sejarah dan budaya,” ujarnya.
Ia juga menilai penyebaran Islam di tanah Jawa pada masa lalu berlangsung melalui pendekatan budaya yang dekat dengan masyarakat. Wayang, tembang, hingga berbagai tradisi lokal menjadi media dakwah yang efektif dalam mengenalkan ajaran Islam tanpa menghilangkan identitas budaya setempat.
Saat ini sejumlah manuskrip dalam koleksinya telah berhasil di digitalisasi. Di antaranya Surat Yusuf, Al-Qur’an, Surat At-Taubah, Surat Yasin, hingga kitab Safinatun Najah. Beberapa naskah telah teridentifikasi berasal dari tahun 1928, sementara lainnya masih menunggu penelitian lebih lanjut untuk memastikan usia dan asal-usulnya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Ulfa































