SALATIGA, Lingkarjateng.id – Dalam rangka memperingati Hari Jadi Salatiga ke-1276, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Salatiga menghadirkan program sedot tinja gratis.
Sedot tinja ini menyasar masyarakat yang memiliki tangki septik kedap namun belum pernah melakukan penyedotan selama tiga hingga lima tahun.
Program ini minimal bisa menyasar 100 unit septik tank rumah warga. Jumlah tersebut masih berpeluang bertambah apabila dukungan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari dunia usaha meningkat.
Berdasarkan hasil identifikasi DPUPR, setidaknya ada sekitar 700 sasaran. Saat ini, DPUPR telah mengajukan proposal kerja sama kepada 36 perusahaan di Kota Salatiga untuk mendukung program melalui dana CSR.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DPUPR Kota Salatiga, Suparli, mengatakan pada tahun ini pemerintah menargetkan sedikitnya 100 rumah menerima layanan sedot tinja gratis.
“Program ini kami lanjutkan sebagai upaya meningkatkan sanitasi yang aman sekaligus membantu masyarakat. Kuota minimal 100 rumah dan masih bisa bertambah sesuai dukungan CSR dari perusahaan,” ujar Suparli saat jumpa pers hari jadi Salatiga ke-1276 di Kantor Pemkot Salatiga, Kamis, 16 Juli 2026.
Menurut Suparli, pelaksanaan program masih memasuki tahapan pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) melalui Surat Keputusan Wali Kota. Setelah KSM terbentuk, perusahaan dapat menyalurkan dana CSR melalui rekening KSM sebagai dasar pelaksanaan kegiatan.
“Pendaftaran program sedot tinja gratis dijadwalkan mulai dibuka pada 24 Juli 2026 dan akan ditutup setelah kuota penerima terpenuhi,” jelasnya.
Menurutnya, selain membantu masyarakat, program ini juga memberikan manfaat bagi pemerintah berupa peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, efisiensi biaya penanganan penyakit akibat sanitasi yang buruk, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta mendukung target pembangunan jangka panjang daerah.
“Bagi masyarakat, layanan ini diharapkan meningkatkan kesadaran pentingnya sanitasi yang aman, meringankan beban terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), serta meningkatkan kualitas hidup,” katanya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Ulfa





























