PATI, Lingkarjateng.id – Akses sandar kapal di Desa Banyutowo, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati masih terkendala pendangkalan dan besarnya gelombang laut. Kondisi ini mendorong nelayan setempat mengusulkan pembangunan jembatan atau dermaga sepanjang 200 meter.
Aspirasi tersebut disampaikan Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mina Lestari Banyutowo, Sugiyono saat berkunjung di kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, Jumat, 17 Juli 2026.
Ia menilai pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Banyutowo belum maksimal tanpa didukung infrastruktur pelabuhan yang memadai.
Menurutnya, pembangunan jembatan atau dermaga akan memudahkan kapal-kapal berukuran besar untuk bersandar dengan aman, sekaligus menggerakkan roda ekonomi pesisir.
“Percuma dibangun koperasi nelayan kalau tidak ditopang jembatan. Fungsi jembatan itu sebagai pelindung kapal saat bersandar sehingga nelayan merasa aman ketika pulang melaut,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat ini kapal-kapal berukuran di atas 10 Gross Ton (GT) enggan masuk ke dermaga Banyutowo karena khawatir baling-baling kapal rusak akibat dasar perairan yang dangkal. Akibatnya, aktivitas bongkar muat hasil tangkapan menjadi kurang maksimal.
“Jembatan ini nanti, InsyaAllah mampu meningkatkan aktivitas pelabuhan sekaligus mendukung operasional KNMP yang menjadi proyek percontohan nasional,” bebernya.
Selain itu, Sugiyono menyebut keberhasilan KNMP tidak hanya bergantung pada bangunan fisik, tapi juga keterlibatan langsung pelaku usaha perikanan dalam pengelolaan koperasi.
Menurutnya, koperasi harus menjadi penggerak utama ekonomi nelayan, mulai dari penyediaan kebutuhan melaut hingga pemasaran hasil tangkapan.
“Kalau koperasi berjalan baik, perputaran ekonomi juga hidup. Saat musim ikan, seluruh pasar di Dukuhseti ikut ramai karena daya beli masyarakat meningkat,” katanya.
Ia menyebut terdapat lebih dari 2.000 nelayan dengan sekitar 250 kapal yang menggantungkan hidup di perairan Banyutowo. Namun hingga kini, jumlah nelayan yang bergabung sebagai anggota KDMP diperkirakan baru sekitar 10 persen.
Sebelumnya, persoalan minimnya keterlibatan nelayan dalam pengelolaan KDMP juga mencuat saat kunjungan Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo ke Banyutowo. Terkuak jika sejumlah nelayan mengeluhkan koperasi belum sepenuhnya melibatkan masyarakat pesisir dalam pengambilan keputusan.
Jurnalis: Fahtur Rohman
Editor: Sekar































