DEMAK, Lingkarjateng.id – Ratusan hektare tanaman padi di wilayah Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak terancam gagal panen akibat kekeringan pada musim tanam kedua tahun 2026.
Camat Guntur, Sukardjo, mengatakan dari 20 desa di Kecamatan Guntur terdapat empat desa yang mengalami kekurangan air untuk mengairi lahan pertanian, yakni Desa Takis, Krandon, Blerong, dan Gaji.
“Dari 20 desa di wilayah Guntur ini ada empat desa yang itu kekurangan air, tapi kekurangan air untuk mengairi lahan pertanian. Karena di empat desa airnya sudah habis. Padahal umur padi kita sebentar lagi atau sekitar setengah bulan ini memasuki masa panen sehingga membutuhkan air untuk ngisi padi itu tadi,” jelasnya, Senin, 6 Juli 2026.
Berbeda untuk kebutuhan konsumsi, Sukardjo menyebut kebutuhan minum dan rumah tangga di Guntur masih aman.
“Kalau air baku untuk kebutuhan minum dan rumah tangga di 20 desa ini Insyaallah tidak ada masalah karena sudah ada pamsimas maupun PDAM,” sambungnya.
Sedikitnya, ada sekitar 150 hektare sawah di empat desa tersebut yang kini bergantung pada pompanisasi dari sungai di sekitarnya.
“Luasnya, kalau di rata-rata satu desa katakanlah 20 desa kurang lebih hampir 150-an hektare. Tapi saat ini masih cukup (kebutuhan air pertanian) karena memang disedot dari kali,” terangnya.
Menurutnya, tanaman padi di wilayah tersebut saat ini tinggal setengah bulan lagi memasuki masa panen. Pada fase pengisian bulir, tanaman masih membutuhkan pasokan air yang cukup agar hasil panen tetap optimal.
Apabila dalam satu bulan ke depan tidak turun hujan maupun tidak ada tambahan pasokan air, sekitar 150 hektare sawah tersebut berpotensi mengalami gagal panen.
“Kalau sampai satu bulan tidak ada air itu ya bisa terancam (gagal panen). Tapi saat ini petani masih bertahan dengan menyedot sisa air dari Kali Setu, Kali Reong, dan Kali Dolog menggunakan pompa untuk mengairi sawah. Meski debit air terus menurun, cara itu masih menjadi satu-satunya harapan petani untuk menyelamatkan tanaman padi. Tapi untuk sampai saat ini masih aman,” jelasnya.
Pemerintah Kecamatan Guntur telah mengusulkan optimalisasi Bendung Karet Wonokerto serta pembangunan embung kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah sebagai solusi jangka panjang masalah pertanian.
Menurutnya, optimalisasi bendung tersebut dinilai menjadi solusi untuk menjamin ketersediaan air irigasi bagi lahan pertanian di empat desa yang selama ini kerap terdampak kekeringan saat musim kemarau.
“Kami sudah mengusulkan kepada pemerintah pusat hingga daerah. Pertama optimalisasi Bendung Karet Wonokerto, yang kedua Embung. Kalau memang bisa (bendung karet) dioptimalkan, maka tidak perlu embung, karena itu sebenarnya bendung karet manfaatnya sangat besar sekali untuk keempat desa itu,” pungkasnya.
Jurnalis: Burhanuddin Aslam
Editor: Ulfa





























