SEMARANG, Lingkarjateng.id – Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ahmad Luthfi menyoroti sejumlah jalan rusak yang tak kunjung beres di wilayahnya. Jalan rusak yang belum tertangani maksimal membuat masyarakat geram hingga berujung diviralkan di media sosial.
“Sekarang masyarakat kita itu tidak bisa ‘sak dheg sak nyet’. Sak deg sak nyet itu jalannya rusak yen iso (kalau bisa) ditangani, diviralkan, dan sebagainya,” kata Gubernur Jateng Luthfi di Kantor DPRD Jateng, Jumat, 3 Juli 2026.
Menurut Luthfi penanganan jalan rusak jangan menunggu viral baru ditinak. Ia menegaskan pemerintah harus bertindak cepat sebelum masyarakat mengetahui dan menyebarkanya di sosial media.
“Public complain masyarakat kita banyak sekali terkait dengan jalan. Kami punya teori no viral no justice, waktu saya sebagai polisi. Viral dulu baru penegakan hukum. Tapi begitu sekarang potensi viral, kita jangan sampai terlambat,” lanjutnya.
Meskipun begitu, Luthfi menekankan bahwa perbaikan jalan juga butuh perencanaan yang terukur. Ia mengakui pemerintah provinsi tak bisa langsung serta-merta bergerak cepat karena harus ada beberapa tahapan hingga akhirnya jalan diperbaiki.
“Provinsi harus melakukan penganggaran, lelang, menentukan jalan-jalan mana yang menjadi prioritas,” terangnya.
Di sisi lain, Luthfi juga menyebut penurunan kualitas jalan di Jawa Tengah dari 94,4 persen pada 2025 menjadi sekitar 84 persen pada 2026. Salah satu penyebabnya adalah musim hujan. Pihaknya membandingkan kondisi cuaca di Jateng dengan Mekkah yang sangat jarang turun hujan sehingga jalan di sana bisa mulus.
“Di Makkah itu nggak pernah ada hujan. Jalannya mulus terus karena nggak kena air. Di Indonesia di tempat kita kena (hujan), jalan semuanya hancur,” ucapnya.
Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melakukan realokasi anggaran Rp200 miliar untuk mengembalikan tingkat kemantapan jalan provinsi menjadi 94 persen.
Ia mengatakan, prioritas perbaikan diberikan pada ruas jalan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan jalan perbatasan yang menjadi wajah Jawa Tengah.
“Jalan perbatasan yang merupakan etalasenya Jawa Tengah. Jadi Wonogiri dapat, Brebes dapat, Rembang dapat, Blora apalagi yang kemarin viral, semuanya sudah clear terkait jalan,” ucapnya.
Luthfi juga meminta dinas terkait memasang penanda di lokasi proyek yang sudah memasuki tahap lelang agar masyarakat mengetahui proses perbaikan sedang berjalan.
“Jadi, harus bawa patok, tulis, tancapkan ‘jalan ini sudah lelang’, ‘jalan ini dibangun’. Sehingga public complain masyarakat tidak ada,” ucapnya.
Jurnalis: Rizky Syahrul
Editor: Ulfa




























