KUDUS, Lingkarjateng.id – Di balik penampilannya yang sederhana sebagai kuli bangunan, tersimpan sosok ulama sekaligus penulis produktif. Dialah Supriyanto (39), warga Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, yang akrab disapa Mbah Riyan. Hingga 2025, ia telah menulis lebih dari 100 kitab di bidang keilmuan Islam.
Supriyanto menempuh pendidikan dasar hingga SMA di Kudus sebelum memperoleh beasiswa kuliah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta, cabang Universitas Jamiatul Imam Riyadh, Arab Saudi.
“Masuknya harus tes tulis dan lisan, saya berangkat dengan modal tekad,” kenangnya.
Sejak 2005, ia mendalami Syariat Islam, khususnya bidang Ushul Fiqih. Kajian ilmiahnya meliputi Ahkam Sujud Sahwi, At-Tarku Indal Ushuliyyin, hingga Al-Istihsan. Dalam proses belajarnya, ia juga mendapat bimbingan dosen dari Universitas Al-Azhar Kairo.
Perjalanan akademiknya membuahkan berbagai prestasi. Pada 2012, ia memperoleh hadiah ibadah haji setelah menjadi juara lomba hafalan kitab Arba’in Nawawi.
Setelah lulus, Supriyanto mengajar sekaligus mengelola perpustakaan sebuah pondok pesantren di Sukabumi sejak 2013. Perpustakaan tersebut menyimpan sekitar 18 ribu jilid kitab.
“Di sana ada sekitar 18 ribu jilid kitab. Pagi saya mengajar, malam menulis,” tuturnya.
Rutinitas itu melahirkan produktivitas luar biasa. Dalam kurun lima tahun, ia berhasil menulis 67 kitab. Hingga 2025, jumlah karyanya telah melampaui 100 kitab. Beberapa di antaranya diterbitkan di Mesir, seperti Taufiq Jali dan Fathul Majid.
Selain menulis kitab baru, Supriyanto juga menaruh perhatian besar pada pelestarian manuskrip ulama Nusantara, seperti karya Syekh Mahfudz Termas dan Ahmad Khatib Minangkabawi.
“Menghidupkan naskah klasik itu fardu kifayah. Kalau tidak kita yang menjaga, bisa hilang selamanya,” ujarnya.
Meski kiprahnya di dunia akademik cukup besar, Supriyanto memilih menjalani hidup sederhana. Sejak kembali ke Kudus pada 2018, ia lebih dikenal sebagai pekerja serabutan. Sesekali ia bekerja sebagai kuli bangunan, membantu panen, atau mengerjakan pekerjaan lain di desanya.
Ia juga sengaja meninggalkan hiruk pikuk media sosial. Di rumah, ia menghabiskan waktu bersama istri dan empat anak laki-lakinya, serta menikmati hobi memancing. Baginya, dikenal luas bukanlah tujuan utama.
“Saya tidak mengharapkan viral atau bagaimana. Yang penting karya-karya saya saja yang diketahui masyarakat, diri saya tidak perlu,” ujarnya.
Ia mengaku sempat terkejut ketika kisahnya ramai dibagikan di Facebook. Reaksi teman-temannya justru membuatnya merasa sungkan.
“Saya malah merasa tidak enak. Biasa saja lah, tidak perlu kaget atau heboh begitu,” ujarnya.
Supriyanto juga mengaku pernah menolak sejumlah tawaran mengajar agar tetap fokus menulis. Baginya, menulis kitab bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan panggilan hidup.
“Saat menulis, rasanya seperti berdialog dengan para ulama terdahulu. Itu tidak bisa diukur dengan materi,” katanya.
Ia menambahkan, menulis sebuah karya membutuhkan wawasan yang luas serta dasar keilmuan yang kuat sebagai pijakan.
Kini, meski telah menghasilkan lebih dari 100 kitab, Supriyanto tetap memilih hidup sederhana di kampung halamannya. Dari desa kecil di Kudus, ia terus menulis dan menjaga warisan intelektual Islam agar tetap lestari sepanjang zaman.
Jurnalis: Lingkarjateng Group Network































