Salatiga (lingkarjateng.id) – Jika berada di Kota Salatiga Jawa Tengah, sempatkan diri mampir ke warung gulai kambing Mbah Djeni yang buka sejak tahun 1978. Meski lokasinya berada di gang sempit Jalan Sukowati nomor 33B, Kalicacing, Kecamatan Sidomukti saban hari ramai pembeli.
Para pecinta kuliner datang untuk menyantap gulai kambing di warung. Warung tersebut tak pernah sepi pembeli karena cita rasanya yang nyaris tak berubah dengan aroma rempah-rempahan yang begitu khas dan menggugah selera makan.
Tak heran jika saat akhir pekan dan libur panjang, konsumen harus rela mengantre dan menunggu di luar demi seporsi gulai hangat yang dihidangkan di warung legendaris tersebut.
Kini, tongkat estafet pengelolaan warung berada di tangan generasi ketiga. Roni Eka Bastian, cucu dari Mbah Djaeni, meneruskan usaha keluarga bersama sanak saudara.
“Ciri khas kami ada di bumbu rempahnya. Rasanya kuat, tapi tidak meninggalkan bekas di lidah. Selain itu, semua diolah segar. Pagi dimasak, langsung disajikan,” ujar Roni sat ditemui wartawan.

Sejak pertama berdiri, lokasi warung tak pernah berpindah. Rumah dengan nuansa jadul itu justru menjadi daya tarik tersendiri. Meja kursi sederhana, dapur terbuka, dan suasana rumahan membuat pengunjung serasa pulang ke masa lalu.
“Pelanggan banyak juga yang dari luar kota. Mereka dulu langganan simbah, sekarang balik lagi pas liburan. Karena tempat terbatas, ya sering nunggu di luar,” ucapnya.
Menu awal warung ini sebenarnya sederhana. Gulai kambing dan tongseng. Namun seiring waktu, inovasi perlahan dilakukan tanpa meninggalkan pakem rasa. Kambing goreng, sate oseng bawang, hingga gule goreng kini justru menjadi menu favorit pelanggan.
“Itu menu signature kami. Gulai goreng bisa dibilang belum ada yang lain di Salatiga. Kuah gule dan dagingnya digoreng terpisah, jadi dapat rasa gule tapi sensasi dagingnya renyah,” terang Roni.
Dalam sehari, Warung Gulai Kambing Mbah Djaeni mampu menghabiskan sekitar 70 porsi. Roni mengaku tidak berani menyimpan stok daging terlalu lama.

“Prinsipnya beli hari ini, habis hari ini. Semua harus segar. Harganya juga masih terjangkau, mulai Rp 15.000 hingga Rp 30.000 per porsi,” katanya.
Di tengah gempuran kuliner modern dan kafe kekinian, Warung Makan Gulai Kambing Mbah Djaeni membuktikan bahwa rasa otentik dan konsistensi adalah kunci bertahan. Dari gang kecil di jantung Kota Salatiga, seporsi gule legendaris terus mengikat kenangan lintas generasi.
Salah satu pengunjung, Dimas mengaku sengaja datang karena penasaran dengan menu gulai goreng yang unik. “Saya penasaran dengan gule gule gorengnya. Ternyata dagingnya empuk dan renyah, kuahnya juga gurih. Sate oseng bawangnya juga enak banget,” ungkapnya.***
Jurnalis : Angga Rosa
Editor : Fian
































