Kudus (lingkarjateng.id) – Hutan Pegunungan Muria membutuhkan perhatian serius berbagai pihak, tak terkecuali kalangan generasi muda. Hal ini disampaikan Yayasan Penggiat Konservasi Muria (PEKA Muria) dalam Seminar Konservasi di Aula SMK Duta Karya Kudus, Sabtu (18/7).
Ketua PEKA Muria, Teguh Budi Wiyono, menegaskan dan mengingatkan kembali periode 1994–1998 ketika kawasan hutan Muria mengalami penebangan besar-besaran yang menyebabkan penyusutan luas hutan secara signifikan.
“Hutan Muria pernah memiliki luas sekitar 11.000 hektare. Kini kawasan hutan yang masih tersisa hanya sekitar dua ribu hektare. Karena itu, konservasi tidak bisa dikerjakan oleh satu komunitas saja, tapi dibutuhkan kolaborasi lintas sektor dan keberlanjutan gerakan,” ujarnya.
Menurut Budi, menjaga Muria bukan sekadar melestarikan pohon, melainkan menjaga sumber kehidupan masyarakat, keberlangsungan mata air, keanekaragaman hayati, hingga warisan budaya yang hidup di kawasan pegunungan tersebut.
Pihaknya selama ini tidak hanya melakukan edukasi konservasi, tetapi juga membantu masyarakat memperoleh dukungan untuk memperbaiki kandang ternak sebagai bentuk mitigasi konflik satwa.
Melalui seminar ini, PEKA Muria berharap lahir semakin banyak generasi muda yang tidak hanya memahami pentingnya konservasi, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat.
Kolaborasi antara komunitas, sekolah Adiwiyata, pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci untuk menjaga kelestarian Pegunungan Muria sebagai warisan ekologis bagi generasi mendatang.
Pada kesempatan yang sama, Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Komisi E Arif Wahyudi, menyampaikan bahwa generasi muda memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran lingkungan. Selain melalui pendidikan, pelajar juga didorong untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana kampanye konservasi yang kreatif, edukatif, dan menjangkau masyarakat luas.
“Kegiatan seperti ini menjadi jembatan bagi kaum muda untuk mengenal konservasi, memahami pentingnya menjaga lingkungan, hingga akhirnya tumbuh menjadi pelaku utama dalam gerakan pelestarian alam,” ungkapnya.
Seminar tersebut mengusung tema “Generasi Hijau: Membangun Harapan, Melestarikan Lingkungan”, kegiatan itu menjadi ruang kolaborasi antara pegiat lingkungan, akademisi, pemangku kebijakan, dan generasi muda memperkuat komitmen pelestarian Gunung Muria.
Turut hadir sebagai narasumber yaitu Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Komisi E Arif Wahyudi, peneliti dan pemerhati konservasi Muria Fawaz, Founder Kresek Indonesia Faesal Adam, serta Ketua PEKA Muria Teguh Budi Wiyono.***
Jurnalis : Nisa Hafizhotus Syarifa
Editor : Redaksi































