BATANG, Lingkarjateng.id – Jumlah korban dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, bertambah menjadi 411 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 orang telah dinyatakan dapat menjalani pemulihan di rumah setelah memperoleh penanganan medis.
Hal itu disampaikan Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) bersama perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) Jawa Tengah ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bela Batang Sejahtera di Kecamatan Bawang, Kamis, 24 September 2026.
“Per tadi jam 12 dilaporkan di puskesmas, di rumah sakit ada lebih dari 411, kemudian ada di rawat inap itu sekitar 170, 200 sekian sudah kembali ke rumah,” kata Faiz.
Faiz mengatakan sidak dilakukan untuk mengetahui kondisi SPPG sekaligus menelusuri proses pengolahan makanan MBG hingga pendistribusian kepada penerima manfaat.
“Kita harus make sure betul apa yang sebenarnya terjadi dari step processing-nya, dari step proses ketika barang datang, kemudian processing, kemudian sampai ter-deliver mobilisasi ke para penerima manfaat MBG,” ujarnya.
Menurut Faiz, dalam evaluasi awal tersebut pihaknya bersama tim BGN menemukan adanya pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) yang dilakukan SPPG Bela Batang Sejahtera.
Temuan tersebut antara lain berkaitan dengan kondisi fisik bangunan, manajemen limbah, bagian dapur yang belum sesuai ketentuan, hingga pengolahan makanan yang dilakukan lebih awal dari SOP.
“Nanti bisa kita catat, kita record, sehingga nanti diberikan punishment sesuai dengan prosedur,” ucapnya.
Faiz mengungkapkan operasional SPPG Bela Batang Sejahtera untuk sementara telah dihentikan. Ia mengatakan hasil evaluasi secara menyeluruh akan menjadi dasar untuk menentukan apakah layanan tersebut dapat kembali beroperasi atau justru dihentikan secara permanen.
“Kalau memang dirasa tidak layak untuk melanjutkan pelayanan gizi kepada masyarakat, ya harus kita tutup secara permanen,” tegasnya.
Lebih lanjut, Faiz mengatakan pihaknya menyiapkan bantuan untuk keluarga yang harus mendampingi anggota keluarganya selama menjalani perawatan. Bantuan tersebut ditujukan untuk mengurangi beban keluarga yang kemungkinan kehilangan penghasilan karena harus menunggu pasien.
“Kita akan membantu keluarga korban, di mana nanti penunggu pasien karena terpaksa mungkin sehari dua hari ini mereka enggak bisa bekerja, karena ada anaknya keracunan atau bahkan mungkin orang tuanya keracunan,” jelasnya.
Menurut Faiz, besaran bantuan tersebut masih dihitung oleh Dinas Sosial Kabupaten Batang. Ia memperkirakan santunan untuk keluarga yang mendampingi pasien berkisar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari.
Sementara itu, BGN Jawa Tengah yang diwakili Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang, Hadiriajaya, mengatakan pihaknya telah melakukan investigasi awal setelah munculnya laporan dugaan keracunan. Pemeriksaan dilakukan terhadap kondisi dapur SPPG serta rekaman kamera pengawas atau CCTV.
Dari penelusuran rekaman CCTV, tim menemukan indikasi proses pengolahan makanan dilakukan lebih awal dibandingkan waktu yang ditetapkan dalam Standar Operasional Prosedur (SOP).
Hadiriajaya menjelaskan, aktivitas pengolahan makanan dalam rekaman terlihat dimulai sekitar pukul 19.30 WIB. Sementara SOP mengatur proses tersebut dilakukan setelah pukul 02.00 WIB dini hari.
Temuan itu menjadi salah satu aspek yang akan ditelusuri lebih lanjut untuk mengetahui kemungkinan kaitannya dengan kejadian dugaan keracunan.
Untuk memastikan penyebab kejadian, tim kesehatan telah mengambil sejumlah sampel makanan yang kemudian akan diperiksa di laboratorium. Hasil pengujian tersebut nantinya menjadi bagian dari proses investigasi.
“Kami juga melakukan investigasi awal. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati, kemudian satgas, terutama Dinkes untuk melakukan investigasi pengambilan sampel makanan untuk dilakukan uji lab,” tuturnya.
Editor: Muslichul Basid































