Batang (lingkarjateng.id) – Di tengah bertambahnya jumlah korban dugaan keracunan menu MBG di Bawang, Kabupaten Batang, pemerintah belum menyimpulkan penyebab gangguan kesehatan tersebut. Pemeriksaan terhadap sampel makanan masih diperlukan untuk memastikan sumber masalah.
Sebelumnya, Wakil Bupati Batang Suyono menyebut sejumlah menu yang dikonsumsi warga antara lain nasi, telur bolognaise, mix sayur, tahu mendoan dan anggur.
Telur sempat disebut dalam keterangan warga sebagai salah satu makanan yang dikonsumsi. Namun, pemerintah belum menyatakan telur maupun menu tertentu sebagai penyebab dugaan keracunan.
Sampel makanan telah diambil untuk pemeriksaan laboratorium. Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi salah satu dasar pemerintah dalam menentukan langkah berikutnya.
Seiring bertambahnya korban, distribusi MBG dari SPPG yang bersangkutan juga dihentikan sementara. Penghentian tersebut dilakukan sembari menunggu hasil pemeriksaan dan evaluasi pengelolaan SPPG.
Suyono menegaskan, pemerintah akan meminta penjelasan dari pihak yang bertanggung jawab terhadap operasional SPPG. Evaluasi juga diperlukan untuk memastikan standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan telah dijalankan.
“Ini program negara yang harusnya bagus, tapi tidak dijaga dengan baik,” ujarnya, saat ditemui di RSUD Kalisari Batang, Rabu (23/9) malam.
Suyono mengatakan, pemerintah tidak ingin kejadian serupa kembali terjadi. Karena itu, pengawasan terhadap SPPG menjadi perhatian dalam penanganan kasus tersebut. Meski jumlah korban telah mencapai 276 orang, pemerintah belum menetapkan kejadian itu sebagai kejadian luar biasa (KLB).
Menurut Suyono, penetapan KLB membutuhkan pembahasan dan mekanisme tersendiri. Pemerintah masih fokus melakukan pendataan korban, penanganan medis, serta pemeriksaan untuk mengetahui penyebab kejadian.
Pemerintah juga belum memastikan seluruh 2.650 penerima manfaat mengalami gangguan kesehatan. Angka tersebut adalah total penerima manfaat yang dilayani SPPG, sedangkan 276 orang merupakan jumlah korban yang tercatat dalam pembaruan data.
Dengan bertambahnya korban menjadi 276 orang, pemerintah kini menghadapi kebutuhan penanganan yang lebih besar. Pemantauan kondisi korban dan verifikasi data menjadi prioritas sebelum kesimpulan mengenai penyebab kejadian ditetapkan.
Hasil laboratorium nantinya diharapkan memberikan kepastian mengenai penyebab gangguan kesehatan tersebut. Sampai hasil pemeriksaan keluar, pemerintah masih menggunakan istilah dugaan keracunan MBG.
Terpisah, Koordinator Paguyuban Mitra MBG Kabupaten Batang Perwakilan Bawang, Toto menyebut atas insiden tersebut pihaknya akan ikut mendampingi para korban. Selain itu, mengajak seluruh mitra MBG untuk lebih hati-hati dan teliti lagi dalam bekerja agar sesuai SOP.
“Kami membantu dan mendampingi korban agar cepat teratasi. Kami juga masih menunggu hasil dari laboratorium. Sebagai langkah evaluasi mengajak mitra SPPG untuk memperbaiki lebih teliti dan baik lagi menjalankan sesuai SOP. Kami juga akan evaluasi dan memberi edukasi,” ujarnya ditemui Rabu (23/9) malam. ***
Editor : Adi Arfian




























