KUDUS, Lingkarjateng.id – Perjuangan panjang dijalani Sutimah (48), seorang guru di SDN 7 Getassrabi, Kabupaten Kudus. Selama 15 tahun terakhir, perempuan asal Boyolali itu rela menempuh perjalanan pergi-pulang (PP) ratusan kilometer setiap hari demi menjalankan tugas mencerdaskan generasi bangsa.
Setiap pagi sebelum matahari terbit, Sutimah telah bersiap meninggalkan rumahnya di Boyolali menuju Kudus menggunakan sepeda motor. Rutinitas itu dijalaninya tanpa henti demi tetap bisa mengajar di sekolah tempatnya mengabdi.
“Saya dari rumah itu habis subuh langsung berangkat, pokoknya pukul 04.45 sudah standby mau berangkat. Kalau pulangnya ya sampai rumah ya jam 4 sore (pukul 16.00 WIB),” ucap Sutimah saat ditemui di SDN 7 Getassrabi, Senin, 18 Mei 2026.
Perjalanan yang ditempuh bukan tanpa risiko. Selain harus melintasi jalan jauh dan kawasan hutan, ia juga beberapa kali mengalami kecelakaan saat perjalanan berangkat maupun pulang mengajar.
Ia mengaku pernah terjatuh hingga mengalami luka serius, kehilangan gigi, bahkan harus mendapat jahitan di kepala akibat kecelakaan. Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap hadir di sekolah.
“Saya juga pernah kayak mau dibegal saat lewat mau pulang di area hutan itu, Alhamdulillah bisa melawan jadinya selamat. Tapi saya tidak takut, karena niat saya di sini untuk mengabdi ke sekolah,” tuturnya.
Sebelum diangkat menjadi aparatur sipil negara (ASN), Sutimah juga sempat merasakan pahitnya menjadi guru honorer. Selama dua tahun ia mengajar tanpa menerima bayaran, kemudian hanya memperoleh honor Rp50 ribu per bulan selama sekitar tujuh tahun, mulai 2004 hingga 2010.
Lahir dari keluarga petani sederhana di Boyolali, Sutimah mengaku harus berjuang keras untuk melanjutkan pendidikan. Dengan tekad kuat, ia menempuh pendidikan di Universitas Terbuka dari hasil jerih payahnya sendiri.
Ia mengaku bersyukur mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya sehingga mampu bertahan menjalani profesi sebagai guru hingga sekarang.
“Dulu pas masih honorer gaji saya Rp 50 ribu saat itu, terus kemudian lolos CPNS gajinya sekitar Rp1,4 jutaan, ini sudah PNS,” tambahnya.
Sebagai ibu satu anak, Sutimah juga harus membagi waktu antara keluarga dan pekerjaannya. Namun ia bersyukur karena suami serta anaknya selalu memberikan dukungan atas perjuangannya selama ini.
Di sisa masa pengabdiannya, Sutimah berharap dapat kembali mengajar di kampung halamannya di Boyolali agar lebih dekat dengan keluarga.
Ia mengungkapkan pernah mengajukan mutasi pada 2019, namun belum disetujui. Pada 2025, ia kembali mengajukan permohonan mutasi dan berharap dapat dikabulkan oleh Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus.
“Suami saya kan perangkat desa, jadinya tidak bisa ikut ke Kudus. Jadi, saya yang laju setiap hari karena punya anak juga. Semoga ya bisa diizinkan untuk mutasi ke Boyolali,” harapnya.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Rosyid
































