KENDAL, Lingkarjateng.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kendal mengantisipasi dampak El Nino Godzilla dengan mengintensifkan edukasi mitigasi kekeringan dan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Seksi (Kasi) Kedaruratan BPBD Kendal, Iwan Sulistyo, menyebut mitigasi menghadapi potensi bencana kemarau dibahas dalam rapat koordinasi di ruang Ngesti Widhi Setda Kendal pada Senin, 18 Mei 2026 sore.
“Kami melaksanakan kegiatan edukasi kepada masyarakat terkait mitigasi kekeringan dan edukasi kewaspadaan terhadap ancaman karhutla. Termasuk di dalamnya kami mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak melaksanakan kegiatan yang berpotensi kebakaran,” ujar Iwan.
Iwan menjelaskan rakor tersebut untuk menjalin koordinasi dengan seluruh stakeholder terkait agar meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi dampak El Nino Godzilla, seperti kekeringan dan karhutla.
“Terutama Perhutani, PTPN dan BKSDA yang mempunyai wilayah hutan di Kabupaten Kendal. Serta mempunyai potensi tinggi terjadinya kebakaran hutan,” ucapnya.
Untuk menghadapi potensi kekeringan, BPBD telah menyiapkan tangki air bersih guna mendistribusikan atau droping air ke wilayah terdampak. Namun, kata Iwan, BPBD masih menunggu data terbaru wilayah rawan kekeringan dari masing-masing kecamatan.
“Data yang kita punya adalah data tahun 2023 sampai 2025. Kita belum tahu daerah-daerah yang kemarin mengalami kekeringan sudah melakukan mitigasi apa belum. Sehingga kita menunggu laporan lanjutan dari kecamatan,” tambahnya.
Sementara itu, Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Kendal, Agus Dwi Lestari, saat memimpin rapat menyebut untuk saat ini dampak el nino belum begitu terasa, kendati begitu tetap perlu diantisipasi dan kesiapsiagaan dini.
“Artinya apabila pada saatnya terjadi musim kemarau panjang dan mengakibatkan kekurangan pasokan air, kita sudah mempunyai upaya-upaya penanganan. Dan yang penting bagaimana kita memitigasi resiko dampak kemarau panjang,” tuturnya.
Adapun puncak musim kemarau 2026 diprediksi terjadi pada bulan Agustus. Sehingga berbagai langkah strategis, kata dia, harus disiapkan terutama memastikan ketersediaan air tetap terjaga.
“Musim kemarau biasanya terjadi di wilayah bagian selatan, seperti Patean, Sukorejo, Plantungan, Pageruyung, Singorojo. Kalau kemarau ini lebih panjang, kekeringan tentunya akan berdampak lebih luas lagi. Kebutuhan air bersih harus menjadi persiapan,” bebernya.
Selain persiapan distribusi air bersih ke permukiman warga, Pj Sekda juga menekankan agar dinas terkait memperhatikan kelancaran distribusi air ke sektor pertanian.
“Jangan sampai air untuk pertanian kurang berdampak puso dan dikhawatirkan mengganggu swasembada pangan. Sehingga mumpung ini masih dapat kita lakukan persiapan maka kita harus mempunyai planing untuk menghindari hal tersebut,” pungkasnya. (Adv)
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Ulfa
































