Semarang (lingkarjateng.id) – Tidak saban sekolah dasar (SD) di Kabupaten Semarang memiliki atau menyediakan armada khusus bagi siswa. Di SD Negeri Bener Kecamatan Tengaran, menyediakan satu unit mobil untuk mengantar mereka pulang ke rumah usai kegiatan belajar mengajar selesai.
Siapa sangka, kendaraan tersebut merupakan mobil bekas angkutan umum yang sebelumnya beroperasi di wilayah Kota Salatiga. Kendaraan dibeli dengan cara swadaya melalui iuran para guru serta dukungan dana dari koperasi sekolah.
“Mobil pengantar murid ini bertujuan memudahkan orang tua yang tidak sempat menjemput anaknya pulang sekolah. Biasanya mereka hanya bisa mengantar saat pagi, tetapi siangnya tidak bisa menjemput karena bekerja,” ujar Sugiyanto Kepala SDN Bener saat ditemui wartawan.
Dijelaskan Sugiyanto, layanan tersebut hanya melayani perjalanan pulang sekolah dengan tujuan titik terdekat dari rumah masing-masing siswa. Dalam sekali perjalanan, mobil mampu mengangkut sekitar 10 hingga 15 siswa dan setiap hari melayani dua kali sesi pengantaran.
Menurutnya, selain memberikan kemudahan bagi orang tua, program tersebut juga menjadi strategi sekolah untuk meningkatkan daya tarik di tengah menurunnya jumlah peserta didik baru.
“Tahun ini kami hanya menerima 11 murid kelas satu. Padahal biasanya jumlah siswa baru bisa mencapai sekitar 30 anak. Mudah-mudahan dengan adanya layanan ini masyarakat semakin tertarik menyekolahkan anaknya di SDN Bener,” tuturnya.

Gani Prasasti, salah satu guru dipercaya menjadi sopir mobil usai jam mengajarnya selesai. Ia mengatakan siswa tidak dikenai tarif tetap. Mereka hanya diminta memberikan uang seikhlasnya untuk membantu biaya bahan bakar kendaraan.
“Siswa membayar seikhlasnya melalui kotak yang disediakan di dalam mobil untuk pengganti bensin. Ini menjadi bagian dari pengabdian kami kepada sekolah dan masyarakat,” kata Gani, Guru Pendidikan Jasmani di SD tersebut.
“Kebetulan jam mengajar saya pagi, sehingga siang hari bisa mengantarkan murid pulang,” imbuhnya.
Gani mengatakan rute pengantaran telah diatur agar seluruh siswa dapat diantar hingga mendekati rumah masing-masing. Rute terjauh mencapai sekitar tiga kilometer dari sekolah.
Kehadiran mobil antar itu disambut antusias para siswa. Selain merasa lebih aman dan nyaman saat perjalanan pulang, mereka juga mengaku senang karena dapat pulang bersama teman-temannya.
Salah satu siswa kelas IV, Meila Mumtaza Wahyuni, mengaku senang menggunakan layanan tersebut. “Lebih aman dan seru karena bisa pulang bareng teman-teman. Biasanya saya bayar Rp2.000,” ujarnya.
Terobosan itu diharapkan menjadi solusi meningkatkan pelayanan pendidikan dan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri di tengah persaingan memperoleh peserta didik baru.***
Jurnalis : Hesty Imaniar
Editor : Redaksi































