DEMAK, Lingkarjateng.id – Kabupaten Demak diproyeksikan menjadi salah satu titik landing point pembangunan Giant Sea Wall yang diinisiasi pemerintah pusat. Rencana tersebut tengah dipersiapkan bersamaan dengan pembangunan Hybrid Sea Wall di kawasan pesisir Desa Surodadi, Kecamatan Sayung.
Sekretaris Dinputaru Kabupaten Demak, Naning Prih Hatiningrum, mengatakan proyek Giant Sea Wall di Demak masih berada dalam tahap persiapan. Sejumlah dokumen dan kajian pendukung tengah dikerjakan oleh sejumlah lembaga.
Penyusunan masterplan dilakukan BO-PPJ, sementara analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dikerjakan Institut Pertanian Bogor (IPB). Adapun dokumen UKL-UPL disusun Universitas Diponegoro (Undip).
“Ini ada kabar semoga nanti segera terealisasi bahwa Demak nantinya akan menjadi titik landing point untuk pelaksanaan Giant Sea Wall yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo. Semoga itu segera direalisasi. Dan saat ini sudah penyusunan masterplan oleh BO PPJ juga penyusunan Amdal oleh IPB dan penyusunan UKL-UPL oleh Undip. Jadi kolaborasi dari semua pihak untuk Demak,” ujar Naning.
Ia menjelaskan, perlindungan pesisir Demak dalam konsep Giant Sea Wall tidak sepenuhnya mengandalkan struktur beton. Pemerintah juga menyiapkan pendekatan berbasis alam dengan menggabungkan konstruksi pelindung pantai dan ekosistem mangrove.
Konsep tersebut diwujudkan melalui Hybrid Sea Wall. Selain itu, terdapat rencana pembangunan tanggul transisi di tepi pantai. Pemkab Demak juga berharap ruas jalan kabupaten yang sebelumnya hilang akibat abrasi dapat dipulihkan sekaligus difungsikan sebagai tanggul penahan rob.
“Konsep Giant Sea Wall itu nanti, Demak tidak melulu bangunan konstruksi tanggul laut, tapi ada yang Hybrid Sea Wall perpaduan konstruksi dan mangrove, kemudian ada yang tanggul transisi tanggul laut di tepi pantai, kemudian ada juga kemungkinan yang kita harapkan terealisasi adalah jalan kabupaten yang sudah hilang itu akan dipulihkan kembali sebagai tanggul rob,” jelasnya.
Naning menyebut konstruksi Giant Sea Wall nantinya diperkirakan berjarak lebih dari dua kilometer dari garis pantai. Kondisi itu berbeda dengan Hybrid Sea Wall di Surodadi yang dibangun langsung di garis pantai.
“Kalau Giant Sea Wall pastinya dari pantai bisa sekitar 2 km lebih. Kalau Hybrid saat ini yang ada di Surodadi masih di garis pantai. Dulunya mungkin belum jadi garis pantai, tapi sekarang sudah menjadi pantai,” katanya.
Sementara itu, pembangunan Hybrid Sea Wall di Surodadi menggunakan bis beton yang disusun sekitar tiga lapis. Struktur tersebut dirancang untuk menahan dan menangkap sedimen sebelum area tersebut ditanami mangrove.
Proyek Hybrid Sea Wall sepanjang sekitar 900 meter itu merupakan pekerjaan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan ditargetkan rampung pada November 2026.
“Hybrid itu bentuknya bis beton itu ditumpuk sekitar 3 tumpukan, untuk menangkap sedimen setelah itu ada bibit mangrove yang akan ditanam disitu. Kalau yang pembangunan Hybrid dengan panjang 900 meter di Surodadi itu kontraknya dari PUPR provinsi mungkin sekitar November 2026 sudah selesai,” terangnya.
Menurut Naning, keberadaan Hybrid Sea Wall dan mangrove diharapkan dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan bagi kawasan pesisir Demak. Vegetasi mangrove juga berfungsi meredam energi gelombang sehingga tekanan terhadap daratan akibat rob dan abrasi dapat ditekan.
“Tujuannya memang untuk mengurangi rob. Setidaknya dengan adanya tanaman mangrove, ombak bisa terpecah sehingga dampak rob dan abrasi tidak semakin parah,” pungkasnya.
Jurnalis: M. Burhanuddin Aslam
Editor: Rosyid






























