SALATIGA, Lingkarjateng.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Salatiga mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah pencegahan kebakaran lahan.
Sampai pekan terakhir Agustus, wilayah Kota Salatiga belum turun hujan dan banyak lahan kering sehingga risiko kebakaran tinggi.
“Kami imbau warga untuk melakukan langkah antisipasi dan tidak membakar sampah disembarang tempat. Jika membakar sampah harus di tempat yang aman dan jangan ditinggal begitu saja. Pastikan dulu apinya benar-benar padam,” kata Kepala BPBD Kota Salatiga, Sutarto, Kamis, 27 Agustus 2026.
Mengacu pada prediksi musim kemarau cukup panjang, BPBD Salatiga mengimbau masyarakat membersihkan lahan dari rumput dan semak belukar yang sudah mengering dengan cara di bakar.
Sutarto menjelaskan bahwa kondisi kering dan panasnya terik matahari, rumput dan semak belukar di lahan mudah terbakar. Jika api tidak terkontrol, seluruh areal bisa terbakar.
Selain itu, Sutarto mengimbau masyarakat untuk mengecek jaringan kelistrikan rumah secara berkala. Jika ada kabel listrik yang sudah tidak layak, hendaknya segera diganti agar tidak terjadi korsleting.
“Pengecekan jaringan kelistrikan secara berkala itu penting. Sebab kabel yang sudah usang rawan korsleting,” ujarnya.
Berdasarkan kejadian kebakaran rumah yang terjadi di Salatiga, sebagian besar disebabkan oleh korsleting jaringan kelistrikan dan kelalaian pemilik rumah. Sedangkan kebakaran lahan juga disebabkan oleh faktor kelalaian manusia.
Berdasarkan peringatan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, sejumlaj daerah di berstatus Awas kekeringan meteorologis pada periode 21-31 Agustus 2026 yakni meliputi Demak, Kudus, Grobogan, Jepara, Pati, Rembang, Blora, Sragen, Karanganyar, Purworejo, Klaten, Magelang, Cilacap, dan Wonogiri.
Status Siaga mencakup Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Kebumen, Temanggung, Semarang, Boyolali, Sukoharjo, Kota Semarang, Kota Salatiga, dan Kota Magelang.
Sementara status Waspada disematkan untuk Kota Tegal, Kota Pekalongan, dan Kota Surakarta.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Ulfa






























