SALATIGA, Lingkarjateng.id –Tingginya kecelakaan lalu lintas di jalan lingkar selatan (JLS) Salatiga menjadi sorotan publik. Warga mendesak pemerintah segera melakukan pembenahan, khususnya di kawasan perempatan Kumpulrejo, Kecamatan Argomulyo dan sepanjang ruas Kumpulrejo hingga Kecandran, Sidomukti.
Warga Kumpulrejo, Kurniawan (55), mengatakan kondisi JLS yang rawan kecelakaan tidak boleh dibiarkan. Pemerintah dinilai perlu segera mengambil langkah untuk menekan risiko kecelakaan yang berulang di jalur tersebut.
“Kami berharap pemerintah bisa bertindak cepat untuk menangani kerawanan lalu lintas di perempatan Kumpulrejo. Semestinya ada jalur penyelamat di jalur dari arah Kopeng menuju Salatiga karena sebagian besar kecelakaan disebabkan rem blong,” katanya, Rabu, 26 Agustus 2026.
Menurut Kurniawan, keberadaan jalur penyelamat penting untuk mengantisipasi kendaraan yang mengalami rem blong saat melaju dari arah Kopeng menuju Salatiga.
Selain jalur penyelamat, dia mengusulkan pembangunan flyover di simpang empat Kumpulrejo JLS sebagai salah satu solusi jangka panjang untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan.
“Lebih baik lagi kalau dibangun flyover sehingga bisa lebih aman,” ujarnya.
Sebelumnya, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Salatiga telah melakukan evaluasi disejumlah titik di ruas JLS.
Kepala Dishub Kota Salatiga Guntur Junianto mengatakan, kajian dilakukan khususnya disepanjang ruas Kumpulrejo hingga Kecandran. Hasil kajian tersebut nantinya akan disampaikan kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub), mengingat JLS merupakan jalan nasional.
“Evaluasi menghasilkan sejumlah usulan penanganan. Menurutnya, langkah pencegahan tidak hanya dilakukan melalui jalur formal, tetapi juga dengan melibatkan berbagai pihak di sekitar lokasi,” katanya.
Salah satu usulan yang kembali mengemuka adalah pembangunan jalur penyelamat darurat (JPD). Fasilitas tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi kendaraan yang mengalami masalah, terutama kendaraan berat.
“Memang dari dulu ada usulan untuk jalur penyelamat darurat (JPD). Dari Cebongan sampai Blotongan harusnya ada tiga titik, namun kini masih satu,” tandasnya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Ulfa































