PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, Sumar Rosul, membacakan sekilas sejarah penetapan hari jadi wilayah setempat.
Dalam rapat paripurna peringatan hari jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan pada Selasa, 25 Agustus 2026, Sumar mengatakan bahwa wilayah Pekalongan telah dihuni oleh peradaban maju jauh sebelum masa pemerintahan Mataram Islam.
Nama Pekalongan telah dikenal sejak abad ke-11 hingga ke-15, sebagaimana tercatat dalam naskah Bujangga Manik serta kronik Tiongkok tahun 1187 Masehi. Temuan arkeologis membuktikan adanya kehidupan masyarakat sejak masa Megalitikum, masa Hindu-Buddha, hingga masa Islam.
Prasasti Rabwan tahun 906 Masehi membuktikan Pekalongan pada masa itu merupakan bagian dari Kerajaan Medang Mataram Kuno.
“Pekalongan bukan lahir secara tiba-tiba pada tahun 1622. Di tanah ini, peradaban telah tumbuh dan berkembang berabad-abad lamanya, meninggalkan bukti-bukti sejarah yang tersebar dari perbukitan hingga dataran rendah,” ujarnya membacakan naskah sejarah.
Secara administratif, Kabupaten Pekalongan ditetapkan berdiri pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma, tepatnya Hari Kamis Legi, tanggal 25 Agustus 1622 Masehi bertepatan dengan Grebeg Maulud Nabi Muhammad SAW, Kamis Legi 12 Rabiul Awal 1042 Hijriyah. Saat itu berlangsung pengangkatan Pangeran Mandurorejo sebagai Bupati Pekalongan pertama.
Tanggal 25 Agustus kemudian ditetapkan menjadi hari jadi Kabupaten Pekalongan setelah melalui pertimbangan nilai historis, normatif, politis, kultural, edukatif, integratif, serta wawasan kebangsaan.
Sumar menyampaikan alasan dipilihnya tahun 1622 sebagai titik awal hari jadi Kabupaten Pekalongan. Meskipun Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 juga menjadi tonggak penting pembentukan Kabupaten Pekalongan sebagai daerah otonom. Namun, secara historis dan kultural, masa pemerintahan Pangeran Mandurorejo menjadi tonggak kesepakatan bersama.
“Ada banyak versi tentang kapan Pekalongan dimulai, namun setelah ditelusuri dan dipertimbangkan dari berbagai aspek, akhirnya kita sepakati: Kamis Legi 25 Agustus 1622 adalah hari kelahiran administratif Kabupaten Pekalongan. Bukan berarti sebelum itu tidak ada apa-apa, justru di sanalah letak kekayaan sejarah kita,” jelasnya.
Dari Pangeran Mandurorejo tahun 1622 hingga masa kini, Kabupaten Pekalongan telah dipimpin oleh puluhan Bupati dan Adipati, dari era Mataram, VOC, Hindia Belanda, hingga masa kemerdekaan RI.
Sumar berharap perjalanan sejarah ini menjadi inspirasi bagi generasi saat ini untuk melanjutkan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
“Memperingati Hari Jadi ke-404 bukan sekadar merayakan usia, melainkan mengenali siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan melangkah. Sejarah panjang ini harus menjadi fondasi, bukan sekadar kenangan. Semoga perjalanan 404 tahun ini membawa berkah dan semangat baru untuk membangun Kabupaten Pekalongan yang semakin maju dan sejahtera,” pungkasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Ulfa





























