PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Dalam rangka mengenang jasa-jasa pendiri wilayah, Plt Bupati Pekalongan, Sukirman, melakukan ziarah ke Makam Pangeran Mandurorejo di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Senin, 24 Agustus 2026.
Sosok Pangeran Mandurorejo sendiri dikenal sebagai pemimpin pertama yang meletakkan dasar pemerintahan di tanah Pekalongan.
Di momen tersebut, Sukirman menyampaikan dua hal penting yaitu menjaga kelestarian tradisi warisan leluhur, serta menyusun buku ensiklopedia yang mencatat seluruh kekayaan sejarah, budaya, dan kearifan lokal Pekalongan, termasuk kuliner khas seperti megono.
Sukirman menjelaskan, tradisi ziarah dan tahlilan yang hidup di tengah masyarakat Pekalongan bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan cara generasi masa kini menghubungkan diri dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Tradisi ini sudah berakar kuat secara turun-temurun dan menjadi ciri khas masyarakat yang menjunjung tinggi ajaran ahlussunnah wal jamaah.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Desa Protomulyo yang senantiasa merawat makam tersebut, serta berharap hubungan baik antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Kendal terus terjalin erat.
Gagasan menyusun ensiklopedia Pekalongan muncul dari diskusi dengan para pegiat literasi muda. Nantinya, buku tersebut akan merangkum berbagai hal tentang daerah, mulai peristiwa sejarah, tokoh, tradisi, hingga kekayaan kuliner yang selama ini dikenal masyarakat.
Menurutnya, penyusunan ensiklopedi tidak hanya mengandalkan dokumen tertulis, tetapi juga melibatkan cerita rakyat dan tuturan lisan yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi. Tujuannya agar sejarah yang disusun tetap berakar pada kearifan lokal dan tidak terlepas dari identitas asli masyarakat Pekalongan.
“Beberapa tokoh anak-anak muda yang memang pegiat-pegiat literasi mendorong kepada kita semua membuat semacam ensiklopedia yang khusus dari Kabupaten Pekalongan. Macam-macam hal di situ, termasuk Megono dan seterusnya,” ungkapnya.
Sukirman menegaskan, memahami sejarah bukan sekadar mengenal masa lalu, melainkan mengambil pelajaran agar generasi masa depan mampu melanjutkan pembangunan dengan landasan yang kuat. Nilai-nilai perjuangan para pendahulu diharapkan menjadi teladan, terutama bagi mereka yang kelak dipercaya mengabdi kepada masyarakat.
“Karena sekali lagi, tokoh proklamator kita juga mengajarkan, jangan sekali-kali tercabut dalam sejarah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Nah, itu pentingnya kita mengambil sejarah sekaligus nilai-nilai luhur yang diajarkan,” tegasnya.
Kegiatan ziarah ini dihadiri oleh Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, jajaran Forkopimda, Kepala Kementerian Agama, para tokoh agama, kiai, serta pimpinan Organisasi Perangkat Daerah. Turut hadir pula perwakilan pemerintah setempat beserta kerabat dan ahli waris Pangeran Mandurorejo.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Rosyid




























