Pekalongan (lingkarjateng.id) – Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Tengah menggelar Forum Diskusi Aktual bertema “Mengubah Limbah Menjadi Berkah: Inovasi Pengolahan Sampah Organik Berbasis Ekonomi Sirkular” di Gedung Muslimat NU Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Kamis (17/9/2026).
Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Sumarwati, mengatakan kegiatan ini program kemitraan Komisi E dan BRIDA Provinsi Jawa Tengah. Masyarakat diperkenalkan pengolahan limbah, termasuk pemanfaatan bahan yang selama ini dianggap sebagai sampah. Salah satunya, kulit buah dapat diolah menjadi sabun nonkimia.
Selain itu, kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan limbah juga terlihat dalam berbagai kegiatan. Ia menyebut limbah botol plastik dan bungkus mi instan pernah dimanfaatkan menjadi bahan untuk membuat pakaian dalam kegiatan Festival Kemerdekaan 17 Agustus.
Dikatakan, Desa Rowokembu, Kecamatan Wonopringgo, menjadi salah satu wilayah yang telah menjalankan pengelolaan sampah dengan memilah sampah berdasarkan jenisnya.
“Kalau di Rowokembu itu sudah tidak buang sampah sembarangan, tapi sudah bisa pilah sampah. Pilah sampah mana yang organik, mana yang tidak bisa diolah, yang berbahaya,” ujarnya.
Ia menyebut sampah yang masuk kategori berbahaya pun dapat dimanfaatkan melalui proses tertentu. Salah satu contohnya adalah popok atau pampers yang dapat diolah menjadi pot bunga.
Sumarwati berharap praktik pengelolaan sampah tersebut dapat diperluas ke wilayah lain. DPRD Provinsi Jawa Tengah bersama BRIDA juga akan mendorong agar pengetahuan tersebut dapat disampaikan melalui program pemberdayaan perempuan di sejumlah kecamatan.
Analis Kebijakan Ahli Muda pada BRIDA Provinsi Jawa Tengah, Dr. Tri Susilowati, mengatakan pengelolaan sampah merupakan salah satu bentuk inovasi yang menjadi bagian dari perhatian BRIDA.
Menurutnya, BRIDA tidak hanya berkaitan dengan penelitian, tetapi juga mendorong berbagai inovasi yang dapat diterapkan di masyarakat. Pengolahan limbah menjadi produk yang lebih bermanfaat menjadi salah satu inovasi tersebut.
“Bagaimana limbah sampah ini tentunya nanti bisa menghasilkan atau menguntungkan, sesuai dengan tema, yaitu bisa membawa berkah,” ujarnya.
Menurutnya, pengelolaan yang belum optimal dapat menyebabkan penumpukan sampah dan berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan maupun kesehatan.
“Kita berharap bahwa masyarakat Jawa Tengah bisa mengelola sampah dengan baik, sehingga tidak terjadi penimbunan sampah yang bisa menimbulkan dampak lingkungan dan juga kesehatan,” katanya.
Sementara itu, Praktisi lingkungan dari Bank Sampah Induk Sahabat Bumi Kabupaten Pekalongan, Tri Indah Mulyaningsih, menjelaskan pada pengolahan sampah organik. Sampah organik, kata dia, dapat diolah menjadi berbagai produk yang lebih bermanfaat. Di antaranya pupuk kompos, eco enzyme, serta melalui budidaya maggot.
“Di antaranya adalah menjadi pupuk kompos, kemudian menjadi eco enzyme, dan kemudian budidaya maggot. Semuanya itu bisa kita pelajari dan bisa kita praktikkan bersama masyarakat,” jelasnya.
Menurut Tri Indah, langkah awal untuk membangun gerakan pengelolaan sampah adalah menumbuhkan kesadaran dari masing-masing individu. Perubahan pola pikir terhadap sampah diperlukan agar masyarakat dapat bergerak bersama dalam mengelolanya. ***
Jurnalis : Fahri Akbar
Editor : Adi Arfian































