KABUPATEN SEMARANG, Lingkarjateng.id – Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang berencana mengembangkan sektor pertanian menggunakan pendekatan agroekosistem terintegrasi berbasis kawasan.
Kepala Dispertanikap Semarang, Moh Edy Sukarno, menjelaskan bahwa pengembangan pertanian sistem agroekosistem ini juga akan menyentuh pengembangan ekosistem pertanian, misalnya untuk komoditas padi.
“Karena selain masalah hama, juga ada masalah kurangnya kesuburan tanah di lahan pertanian karena sudah banyaknya terkena bahan kimia khususnya dari pupuk kimia yang berlebihan, sehingga kita akan mendorong pertanian organik dan sudah dirintis, kita pilih kawasan sentra padi yang punya irigasi,” jelasnya, Selasa, 21 April 2026.
Dalam pelaksanaanya, ia merencakan agroekosistem padi akan dibuat integrasi berkesinambungan. Misalnya lahan yang digarap dengan pupuk organik juga akan memaksimalkan sektor peternakan di sekitar lahan pertanian.
“Dan kenapa perlu berbasis kawasan, karena ini sebagai pilot project untuk meminimalisir OPT itu butuh ada rintisan tanam serempak, lalu penggunaan alsintan kita dorong dan maksimalkan di 11 kecamatan yang sudah ada alsintannya,” sambungnya.
Pihaknya juga akan mendorong gerakan terpadu pengendalian hama hingga pencarian alat deteksi serangan hama tikus.
Dispertanikap juga tengah menyiapkan aplikasi khusus yang akan digunakan untuk memantau total luas tambah atau tanam indeks tanam padi di Kabupaten Semarang, nantinya neraca pertanian itu akan ada aplikasi sebagai acuan di sektor pengembangan pertanian.
“Sehingga kita perlu integrasi, karena di area tanam padi itu bisa jadi tempat panen ikan, dan lainnya. Lalu, pupuk supaya bisa hemat maka di dorong untuk organik, jadi ketika biaya produksi bisa ditekan, hasilnya bisa maksimal,” terangnya.
Jurnalis: Hesty Imaniar
Editor: Ulfa































