BLORA, Lingkarjateng.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora menanggapi dugaan keracunan yang dialami 19 siswa SDN Sendangrejo, Kecamatan Ngawen, usai menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin, 7 Juli 2026.
Kepala Dinkes Kabupaten Blora, Edy Widayat, membenarkan adanya insiden tersebut. Menurutnya, begitu menerima laporan, petugas kesehatan langsung memberikan penanganan kepada para siswa yang mengalami gejala.
“Iya, benar (ada kejadian tersebut). Saat ini para siswa sedang mendapatkan penanganan intensif di Puskesmas Ngawen,” ujar Edy.
Meski demikian, pihaknya belum bisa menyimpulkan penyebab pasti munculnya gejala yang dialami para siswa maupun memastikan apakah sumbernya berasal dari menu MBG yang dikonsumsi.
“Kami belum berani menyimpulkan. Saat ini fokus utama kami adalah memastikan seluruh siswa tertangani dengan baik dan kondisinya kembali stabil,” katanya.
Edy mengatakan pihaknya juga akan melakukan investigasi lebih lanjut, termasuk pemeriksaan sampel makanan melalui uji laboratorium untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.
Sementara itu, pihak sekolah menyebut insiden terjadi setelah makanan MBG yang disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogowanti yang berada di bawah naungan Yayasan Mitra Cendekia Waskita dibagikan kepada para siswa.
Guru Kelas 2 SDN Sendangrejo, Fatoni, menjelaskan makanan tiba di sekolah sekitar pukul 06.30 WIB dan dibagikan kepada siswa setelah pelaksanaan upacara.
“Itu dari SPPG Bogowanti, makanan di bagikan (datang ke sekolah) setengah 7 (pukul 06.30 WIB). Dari sekolahan kita bagikan setelah upacara sekitar jam 8,” katanya.
Menurut Fatoni, dari total 141 siswa, sebanyak 19 anak mengalami keluhan seperti mual dan muntah setelah menyantap makanan. Sebagian besar siswa yang terdampak berasal dari kelas 3, 4, dan 5.
“Setelah dicek, anak-anak yang belum diminum, kita tarik semua dan bawa ke lab. Jumlah siswa 141 anak dan yang dibawa ke puskesmas 19 anak. Rata-rata (anak keracunan) kelas 3 4 5,” ujarnya.
Ia mengungkapkan menu MBG yang dibagikan pada hari itu terdiri atas nasi, telur, kacang campur tempe, anggur, dan susu kotak cokelat.
Ia menduga gejala yang dialami siswa berkaitan dengan susu kotak karena ditemukan kemasan yang sudah mengembang atau pecah di dalam wadah makanan.
“Indikasi di susu kotak, mungkin penyimpanan atau bagaimana,” katanya.
Salah seorang siswa berinisial D mengaku mulai merasakan keluhan tidak lama setelah mengonsumsi makanan, terutama setelah meminum susu kemasan.
“Kepala langsung pusing dan perutnya sakit, pusing habis,” ujarnya.
Jurnalis: Hanafi
Editor: Rosyid






























