JAKARTA, Lingkarjateng.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu program yang paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat berdasarkan survei yang dirilis Lembaga Arus Survei Indonesia (ASI).
Dari temuan survei tersebut, MBG berada di posisi teratas dengan 44,9 persen, disusul Cek Kesehatan Gratis sebesar 18,0 persen, dan Sekolah Rakyat sebesar 6,7 persen.
Dari survei tersebut, mayoritas masyarakat masih menginginkan keberlanjutan program MBG yang menjadi salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Berdasarkan survei tersebut, sebanyak 51,5% masyarakat menyatakan setuju program MBG dilanjutkan (Gabungan sangat setuju 12,3% dan cukup setuju 39,2%)
Sementara itu, sebanyak 45,4% responden menyatakan tidak setuju program tersebut dilanjutkan. Angka tersebut gabungan dari kurang puas 29,6%, dan sangat tidak setuju 15,8%. Adapun 3,3% responden menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab.
Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, Ali Rif’an, mengatakan angka tersebut menunjukkan bahwa program MBG masih memiliki dukungan publik yang relatif lebih besar dibandingkan dengan masyarakat yang menginginkan program tersebut tidak dilanjutkan.
“Kalau melihat hasil survei, mayoritas masyarakat masih menyatakan setuju apabila program Makan Bergizi Gratis dilanjutkan. Angkanya memang tidak terlalu jauh, tetapi dukungan publik masih berada di atas angka ketidaksetujuan,” ujar Ali Rif’an dalam agenda rilis survei nasional di Sofyan Hotel Cut Meutia, Menteng, Jakarta.
Menurut Ali, temuan tersebut menunjukkan bahwa MBG masih dipandang sebagai program yang memiliki relevansi dengan kebutuhan masyarakat. Namun, adanya proporsi masyarakat yang tidak setuju cukup besar juga menjadi catatan bagi pemerintah untuk terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program.
“Di satu sisi ada dukungan mayoritas, tetapi di sisi lain angka yang tidak setuju juga cukup signifikan. Ini tentu menjadi catatan bahwa keberlanjutan program perlu dibarengi dengan evaluasi dan perbaikan agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat,” katanya.
Ali menilai dukungan masyarakat terhadap keberlanjutan sebuah program pemerintah pada akhirnya sangat dipengaruhi oleh bagaimana program tersebut diimplementasikan dan dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
“Yang penting bukan hanya programnya dilanjutkan, tetapi bagaimana kualitas pelaksanaannya. Ketika masyarakat merasakan manfaat secara nyata, tentu dukungan terhadap program akan semakin kuat,” tutur Ali.
Lantas bagaimana pandangan generasi Z dan milenial terhadap program MBG?
Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, Ali Rif’an, menyampaikan bahwa hasil tabulasi silang berdasarkan kelompok usia, tingkat kepuasan terhadap program MBG cukup terlihat pada kelompok generasi muda.
Generasi Z dari kelompok usia 17 sampai 23 tahun terdapat 54,6 persen yang menyatakan puas dengan program MBG.
Sementara pada kelompok Milenial, usia 24 sampai 39 tahun, tingkat kepuasannya berada di angka 50,4 persen.
“Ini menarik karena ketika kita lihat berdasarkan kelompok usia, tingkat kepuasan Gen Z mencapai 54,6 persen dan Milenial 50,4 persen. Artinya, pada dua kelompok generasi ini terdapat kecenderungan penilaian yang positif terhadap program MBG,” katanya.
Ali menilai, tingginya perhatian kelompok muda terhadap program tersebut tidak terlepas dari karakter MBG yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat, khususnya terkait pemenuhan gizi dan kualitas sumber daya manusia.
Ia menambahkan, persepsi positif tersebut dapat menjadi modal bagi pemerintah untuk terus meningkatkan kualitas pelaksanaan MBG. Menurutnya, keberlanjutan program perlu dibarengi dengan evaluasi agar manfaat yang diterima masyarakat semakin optimal.
“Yang paling penting sekarang adalah bagaimana pemerintah menjaga kualitas pelaksanaan program. Kepuasan publik harus menjadi masukan untuk terus memperbaiki program, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Survei nasional Arus Survei Indonesia tersebut merupakan bagian dari riset bertema “Evaluasi Kinerja & Program Prioritas Pemerintahan Prabowo-Gibran” yang dilaksanakan pada 23–29 Juli 2026 di 38 provinsi di Indonesia.
Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka terhadap 1.200 responden, dengan metode penarikan sampel Multistage Random Sampling. Survei memiliki margin of error (MoE) ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Editor: Ulfa
































