GROBOGAN, Lingkarjateng.id – Loka Pengawas Obat dan Makanan (POM) Grobogan menyelidiki penyebab dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami ratusan siswa dan guru SMAN 1 Lasem, Kabupaten Rembang.
Kepala Loka POM Grobogan, Ronald H. Manik, mengatakan pihaknya saat ini telah mengirim sejumlah sampel menu makanan ke laboratorium di Semarang.
Menurutnya, sampel tersebut diambil saat petugas melakukan pemeriksaan di sekolah dan SPPG Soditan Lasem yang dikelola Yayasan Semende Kanthi Mantel.
Ia menyebut pengujian laboratorium diperlukan untuk memastikan apakah makanan MBG yang dikonsumsi pada 2 September berkaitan dengan munculnya gejala yang dialami para penerima manfaat.
Ronald mengatakan pihaknya langsung melakukan pemeriksaan setelah menerima laporan dari Dinas Kesehatan terkait adanya kasus dugaan keracunan MBG di SMAN 1 Lasem pada 3 September 2026.
“Kami dari Tim Loka POM Grobogan gerak cepat untuk menindak laporan yang masuk. Kami dapat informasi tanggal 3 September dari Dinas Kesehatan, lalu kita langsung menuju lokasi kejadian,” ujar Ronald, Kamis, 3 September 2026.
Dalam pemeriksaan tersebut, petugas mengambil sampel sejumlah menu MBG yang dikonsumsi sehari sebelum dugaan kejadian keracunan. Sampel yang diperiksa meliputi nasi, ayam bakar, lalapan, semangka, dan mendoan.
“Kami belum bisa mengambil kesimpulan. Setiap sampel akan kami bawa ke Semarang untuk dilakukan uji laboratorium,” jelasnya.
Ronald mengatakan, hasil pengujian diperkirakan diketahui dalam waktu sekitar lima hari kerja. Selama hasil laboratorium belum keluar, Loka POM Grobogan belum dapat memastikan penyebab munculnya gejala pada siswa maupun guru.
Selain mengambil sampel makanan, petugas juga memeriksa kondisi sanitasi serta penerapan standar operasional prosedur (SOP) di SPPG Soditan Lasem dan SMAN 1 Lasem. Pemeriksaan turut dilakukan di Puskesmas tempat sejumlah korban mendapatkan perawatan.
Di SMAN 1 Lasem, jumlah penerima manfaat MBG tercatat sebanyak 1.269 orang. Dari jumlah tersebut, 777 siswa dan guru dilaporkan mengalami gejala.
Pada tahap awal penanganan, sekitar 23 orang menjalani perawatan di Puskesmas Lasem. Enam orang sempat menjalani rawat inap, sedangkan lainnya menjalani rawat jalan.
Jumlah pasien rawat inap kemudian meningkat menjadi 10 orang dengan total penerima perawatan mencapai 28 orang.
Di tengah proses penyelidikan, Loka POM Grobogan juga memberikan edukasi kepada pihak sekolah terkait langkah pencegahan ketika menerima kembali distribusi makanan MBG.
Petugas meminta sekolah melakukan pemeriksaan terhadap makanan yang diterima, termasuk tidak hanya mencicipi satu jenis menu. Kondisi makanan juga perlu diperhatikan dari sisi bau, rasa, dan penampakannya.
“Kalau ditemukan bau, rasa dan penampakannya tidak meyakinkan dan dicurigai basi atau tidak layak makan, mohon untuk ditolak,” tegas Ronald.
Sementara itu, pada Jumat, 4 September 2026, sebanyak 209 siswa SMAN 1 Lasem tercatat tidak masuk sekolah.
Hingga kini, Loka POM Grobogan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium di Semarang sebagai dasar untuk mengetahui penyebab dugaan keracunan yang menimpa ratusan siswa dan guru SMAN 1 Lasem.
Jurnalis: Lingkar Network/Ahmad Abror
Editor: Muslichul Basid
































