Demak (lingkarjateng.id) – Kepedulian terhadap kesetaraan komunikasi bagi penyandang disabilitas mendorong mahasiswa asal Kabupaten Demak, Jawa Tengah, mengembangkan teknologi pintar yang mampu menerjemahkan bahasa isyarat secara langsung.
Dia adalah David Bastian, mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), bersama timnya berhasil mengembangkan T-SYARA. Sebuah sarung tangan pintar yang mampu menerjemahkan gerakan bahasa isyarat menjadi teks dan suara secara langsung.
Diceritakan awal ide pengembangan teknologi tersebut bermula dari hasil observasi terhadap siswa di sejumlah sekolah luar biasa (SLB) di Kota Semarang. Dari pengamatan itu, ia melihat adanya persoalan komunikasi antara penyandang tunawicara dengan masyarakat umum yang belum memahami bahasa isyarat.
Bastian khawatir keterbatasan komunikasi tersebut dapat berdampak terhadap kondisi psikologis penyandang disabilitas saat mereka beranjak dewasa dan berinteraksi dengan masyarakat luas.
“Takutnya nanti ketika dewasa, mentalnya down ketika bertemu dengan masyarakat luas. Kita mau bicara karena tidak paham, jadi nanti diabaikan atau bahkan disisihkan,” ujar Bastian kepada wartawan, Senin (7/9).
Disebutkan jika inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC). Bastian tidak bekerja sendiri, ia bersama sejumlah temannya tergabung dalam tim yang berada di bawah bimbingan dosen.
Bastian menjelaskan, T-SYARA mengintegrasikan sejumlah komponen teknologi, di antaranya mikrokontroler ESP32, sensor gerak atau Inertial Measurement Unit (IMU) MPU6050 yang ditempatkan di bagian pergelangan tangan, serta lima sensor tekuk jari atau flex sensor.
Data yang diperoleh dari seluruh sensor kemudian diproses oleh sistem untuk mengenali gerakan bahasa isyarat dan menghasilkan keluaran berupa teks serta suara secara otomatis setelah pengguna menyelesaikan gerakannya.
“Tim kami membuat sarung tangan yang bisa membaca gerakan bahasa isyarat, kemudian muncul suara yang sesuai dengan isyaratnya. Tidak hanya suara, kami juga menambahkan output berupa teks yang bisa ditampilkan,” jelasnya.

T-SYARA dirancang praktis digunakan. Pengguna cukup mengenakan sarung tangan pada tangan dominan, lalu menghubungkannya dengan jaringan Wi-Fi atau hotspot dari telepon seluler. Setelah proses kalibrasi awal selesai, pengguna tidak perlu mengunduh aplikasi khusus. Sistem dapat diakses melalui peramban atau browser pada ponsel.
“Setelah kalibrasi awal selesai, pengguna tidak perlu mengunduh aplikasi khusus apa pun. Cukup buka peramban atau browser di ponsel, seperti Google Chrome, lalu masukkan alamat dashboard web yang tertera pada layar OLED kecil di bagian pergelangan sarung tangan,” terangnya.
Ia menjelaskan, sistem dirancang untuk mengenali gerakan huruf dalam Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) melalui kombinasi lekukan kelima jari dan kemiringan tangan.
Setiap huruf yang berhasil terdeteksi akan dikirimkan ke dashboard pada ponsel secara real-time. Huruf-huruf tersebut kemudian dirangkai menjadi kata. Setelah kata selesai dibentuk, sistem secara otomatis melafalkannya melalui pengeras suara ponsel.
“Huruf-huruf yang terdeteksi dari gestur itu akan langsung dikirim ke dashboard di ponsel pintar secara real-time hingga merangkai sebuah kata. Begitu kata selesai dirangkai, sistem akan otomatis melafalkannya secara lisan lewat pengeras suara ponsel,” jelasnya.
Dalam proses pengembangannya, tim sempat menghadapi kendala akurasi pembacaan sensor. Pada tahap awal penelitian, mereka menggunakan sensor Passive Infrared (PIR). Namun, sensor tersebut dinilai kurang sesuai untuk mendeteksi gerakan masing-masing jari secara detail.
“Sensor yang kami pakai awalnya PIR, ternyata tidak sesuai untuk akurasi sensor per jari. Kemudian kami mencoba mencari flex sensor yang bagus. Akurasinya juga lumayan tinggi dan bisa lebih detail dalam membaca setiap pergerakan,” tuturnya.
Setelah melalui proses pengembangan dan pengujian, prototipe T-SYARA telah diuji coba secara langsung kepada tenaga pendidik di sekolah luar biasa. Hasil uji coba tersebut mendapat respons positif.
“Kami uji cobanya di sekolah sosial serta sekolah luar biasa. Alhamdulillah, gurunya suka. Kata beliau, kalau bisa alat ini lebih dikembangkan dan didistribusikan karena sangat berguna untuk tunawicara,” katanya.
Sementara itu, Muhammad Sam’an selaku dosen pembimbing mengapresiasi inovasi yang dikembangkan para mahasiswa tersebut. Menurutnya, T-SYARA menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diterapkan menjawab persoalan sosial di tengah masyarakat.
“Inovasi T-SYARA ini bukan sekadar tugas akademik, tetapi sebuah bentuk empati yang diterjemahkan ke dalam teknologi inklusif. Saya sangat mengapresiasi kerja keras tim yang gigih mengintegrasikan sistem kecerdasan buatan dengan perangkat wearable demi memberikan hak komunikasi yang setara bagi kawan-kawan difabel,” ujar Sam’an.
Sam’an berharap T-SYARA tidak berhenti pada tahap prototipe, tetapi dapat terus dikembangkan sehingga memiliki desain yang lebih ringkas, praktis, mudah dibawa, dan pada akhirnya dapat diproduksi secara massal. (Lingkar Network/Burhan)***
Editor : Adi Arfian





























