SALATIGA, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga melalui Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) menargetkan vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) terhadap 1.700 ekor sapi sepanjang 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga populasi ternak sekaligus mencegah kembali meluasnya kasus PMK.
Plt Kepala Dispangtan Kota Salatiga, Syahdhani Onang Prastowo, mengatakan vaksinasi menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan kondisi kesehatan ternak di tengah risiko penularan yang masih ada.
“Vaksinasi PMK rutin diulang dalam jarak 4-6 bulan sekali,” katanya, Senin, 7 September 2026.
Saat ini, populasi sapi di Kota Salatiga mencapai sekitar 4.003 ekor. Jumlah tersebut terdiri dari 933 sapi potong dan 3.070 sapi perah.
Menurut Syahdhani, ancaman PMK tetap perlu diantisipasi meski kasus di Salatiga mengalami penurunan. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah mobilitas serta lalu lintas ternak dari luar daerah.
Sapi yang didatangkan dari wilayah lain berpotensi membawa virus PMK. Risiko penularan semakin besar apabila hewan tersebut baru menunjukkan gejala setelah tiba dan bercampur dengan ternak lain di Salatiga.
Berdasarkan catatan Dispangtan Kota Salatiga hingga 4 September 2026, terdapat 31 kasus PMK yang terkonfirmasi. Sebanyak 30 sapi telah dinyatakan sembuh, sementara satu ekor harus menjalani potong paksa.
Dispangtan memastikan saat ini tidak terdapat kasus aktif PMK di Kota Salatiga. Jumlah kasus tersebut juga turun dibandingkan 2025 yang mencapai 52 kasus.
Meski terjadi penurunan, pemerintah tetap mendorong peternak menerapkan langkah pencegahan. Pengendalian PMK dilakukan tidak hanya melalui vaksinasi, tetapi juga dengan monitoring kawasan ternak serta komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada peternak.
Peternak juga diminta lebih selektif saat membeli sapi, khususnya dengan menghindari ternak yang menunjukkan kondisi kurang sehat. Untuk sapi yang didatangkan dari luar daerah, peternak diimbau memastikan hewan tersebut memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).
Sapi yang baru tiba juga dianjurkan menjalani isolasi sebelum disatukan dengan ternak lain di kandang. Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya penyakit yang belum menunjukkan gejala.
“Selain itu, penerapan biosecurity melalui penggunaan desinfektan terus didorong untuk mengurangi risiko penyebaran virus,” tegasnya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Muslichul Basid





























