SALATIGA, Lingkarjateng.id – Lalu lintas sapi dari luar daerah menjadi salah satu faktor utama penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kota Salatiga. Sepanjang Januari hingga awal September 2026, sebanyak 31 sapi terkonfirmasi PMK. Meski demikian saat ini tidak ada kasus aktif.
Plt Kepala Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Salatiga Syahdhani Onang Prastowo mengatakan, sebagian besar kasus berkaitan dengan sapi baru yang masuk ke Salatiga. Sapi yang didatangkan dan menunjukkan gejala PMK berpotensi menularkan penyakit kepada sapi lain yang berada dalam satu kandang.
“Kejadian PMK sangat erat kaitannya dengan lalu lintas ternak. Sebagian besar disebabkan masuknya sapi baru yang kemudian menunjukkan gejala PMK dan menular pada sapi lain di kandang,” kata Syahdhani, Sabtu, 5 September 2026
Ia menjelaskan, berdasarkan catatan Dispangtan hingga 4 September 2026, dari 31 sapi yang terkonfirmasi PMK, sebanyak 30 ekor telah sembuh dan satu ekor menjalani potong paksa.
“Tidak ada sapi yang saat ini tercatat masih dalam perawatan karena PMK,” terangnya.
Menurutnya, jumlah tersebut menurun dibandingkan 2025 yang mencapai 52 kasus. Pada 2026, kasus terbanyak ditemukan di Kecamatan Argomulyo, disusul Sidomukti. Sedangkan Kecamatan Tingkir dan Sidorejo tercatat nihil kasus.
“Argomulyo menjadi wilayah yang mendapat perhatian karena memiliki populasi sapi terbesar di Kota Salatiga,” pungkasnya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Sekar
































