SEMARANG, Lingkarjateng.id – Dinas Kebakaran Kota Semarang mengungkapkan kebutuhan Bronto Skylift penting untuk menjangkau titik kebakaran terutama di gedung-gedung tinggi.
Sebab, pertumbuhan gedung bertingkat di Kota Semarang cukup pesat dan harus diimbangi sarana pemadaman kebakaran yang mendukung.
“Sangat penting sebenarnya. Surabaya itu punya gedung tertinggi, Tunjungan Plaza, sekitar 200 sekian meter. Mereka punya Bronto Skylift yang bisa sampai 100 sekian meter,” kata Sekretaris Dinas Kebakaran Kota Semarang, Ade Bhakti, Minggu, 30 Agustus 2026.
Menurut Ade, Bronto Skylift tidak hanya dibutuhkan di kota yang memiliki gedung pencakar langit.
“Di Madiun, gedung tertingginya hanya 16 lantai, tapi mereka sudah memiliki mobil Bronto Skylift,” ujarnya.
Sementara itu, ia menilai Kota Semarang yang terus berkembang dengan bangunan bertingkat justru masih belum memiliki kendaraan tangga pemadam yang memadai untuk menjangkau gedung tinggi.
Ia menyebut kendaraan tangga yang pernah dimiliki Damkar Semarang merupakan hibah pemerintah Jepang pada era 1990-an. Namun, kendaraan tersebut kini sudah tidak dapat dioperasikan.
“Ini ada mobil tangga tahun 90-an, hibah dari pemerintah Jepang, dan sudah tidak bisa operasional,” jelasnya.
Menyadari kondisi tersebut, ia menyebut Damkar Semarang kini lebih banyak mengarahkan pada langkah pencegahan kebakaran. Diantaranya mendorong agar setiap gedung menyediakan fasilitas hydrant, alat pemadam api ringan atau APAR, hingga menyiapkan kesiapan sumber daya manusia.
“Kami mulai tiga tahun terakhir ini memperkuat pencegahan supaya gedung itu alat proteksinya memadai, hydrant memadai, apalagi APAR memadai, SDM-nya memadai,” kata Ade.
Akan tetapi, langkah pencegahan tetap tidak menghilangkan kebutuhan terhadap peralatan pemadam dengan jangkauan tinggi. Ade menyebut tiga menit pertama merupakan masa krusial dalam penanganan kebakaran.
“Nol sampai tiga menit itu biasanya masih bisa di-handle oleh manusia,” ujarnya.
Di sisi lain, kebutuhan Bronto Skylift sebenarnya bukan persoalan yang baru diketahui. Ade mengatakan kebutuhan tersebut telah masuk dalam kajian rencana induk sistem proteksi kebakaran Kota Semarang.
“Kota ini sekarang kondisinya seperti ini, harusnya karena pelayanan kebakaran ini masuk urusan wajib, sudah kami petakan. Perkembangan kota hari ini sekian, kebutuhannya pos mestinya sekian, kemudian peralatan sekian. Kami sudah ada kajiannya,” jelasnya.
Bahkan, kata dia, usulan pengadaan Bronto Skylift telah disampaikan sejak 2024. Namun, hingga kini kendaraan tersebut belum juga terealisasi.
“Sudah diajukan. Dari dua tahun lalu, 2024 sudah kami ajukan,” kata Ade.
Ia mengungkapkan realisasi pengadaan harus menunggu penentuan prioritas anggaran oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) bersama wali kota.
“Ketika kita ajukan ke TAPD, pasti ada prioritas-prioritas yang akan diambil langkah oleh TAPD dan Ibu Wali Kota, mana yang prioritas dulu dan mana yang mungkin nanti setelah itu,” ujarnya.
Ade berharap pengadaan Bronto Skylift dapat segera direalisasikan. Selain itu, ia menilai kantor Damkar juga harus disesuaikan karena kendaraan tersebut berukuran besar dan membutuhkan ruang manuver yang memadai.
“Kalau Skylift, kantornya juga harus disesuaikan karena mobilnya besar, manuvernya besar. Jadi di kajiannya harus terperinci nanti. Dan kantornya juga,” tuturnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Sekar
































