DEMAK, Lingkarjateng.id – Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Demak mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap Tuberkulosis (TBC) dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala penyakit tersebut.
Berdasarkan data Dinkesda Kabupaten Demak, hingga 10 Juni 2026 sebanyak 8.356 orang terduga TBC telah menjalani pemeriksaan. Dari jumlah tersebut ditemukan 1.124 kasus baru TBC hingga 10 Mei 2026. Sementara sepanjang tahun 2025, sebanyak 19.749 terduga TBC diperiksa dan menghasilkan temuan 2.285 kasus baru.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkesda Kabupaten Demak, Heri Winarno, mengatakan TBC masih menjadi salah satu penyakit menular yang memerlukan perhatian serius. Pihaknya pun menargetkan eliminasi TBC pada tahun 2030 melalui berbagai program penanggulangan berbasis masyarakat.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembentukan Desa Siaga TBC yang bertujuan memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menemukan kasus, mendampingi pasien, hingga mencegah penularan di lingkungan sekitar.
“Desa Siaga TBC dibentuk untuk memperkuat peran masyarakat dalam upaya penanggulangan TBC. Di Kabupaten Demak ini ada dua desa yang menjadi inisiasi program Desa Siaga TBC yaitu Desa Doreng dan Desa Jragung. Harapannya ke depan seluruh desa dapat terbentuk Desa Siaga TBC sesuai dengan surat edaran yang telah diterbitkan,” ujar Heri di sela peluncuran Desa Siaga TBC di Desa Doreng, baru-baru ini.
Menurut Heri, Desa Siaga TBC memiliki peran strategis dalam mendukung program eliminasi TBC. Kader dan masyarakat dilibatkan untuk membantu menemukan warga yang diduga terinfeksi, mendorong mereka menjalani pemeriksaan, serta mendampingi pasien selama proses pengobatan.
Selain itu, program tersebut juga mencakup pelacakan kontak erat atau anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien guna memastikan mereka memperoleh terapi pencegahan jika diperlukan.
“Tugasnya ada empat pokok, penemuan terduga, motivasi untuk pemeriksaan, kalau positif harus minum obat sampai sembuh minimal 6 bulan, kontak erat (serumah) yang bukan pasien TB diharapkan minum terapi pencegahan,” jelasnya.
Heri menjelaskan, masyarakat perlu mengenali gejala awal TBC agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain batuk yang tidak kunjung sembuh, penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas, serta sering berkeringat pada malam hari.
“Batuk, ada penurunan berat badan, atau berkeringat biasa malam hari tanpa aktivitas itu juga. Batuk 10 hari atau sampai 2 minggu itu belum sembuh. Jika mengalami gejala tersebut, harapannya segera memeriksakan diri. Saat ini kami sudah memiliki layanan Tes Cepat Molekuler (TCM) yang dapat digunakan untuk mendeteksi TBC secara lebih cepat,” katanya.
Ia menambahkan, masyarakat tidak perlu khawatir mengenai biaya karena seluruh layanan penanganan TBC telah ditanggung pemerintah. Mulai dari pemeriksaan, pemberian obat, hingga pendampingan selama masa pengobatan dapat diakses secara gratis.
“Pengobatan TBC tidak ditanggung melalui BPJS Kesehatan, melainkan melalui program pemerintah. Seluruh pemeriksaan, obat-obatan, hingga pasien dinyatakan sembuh diberikan secara gratis,” pungkasnya.
Jurnalis: M. Burhanuddin Aslam
Editor: Rosyid
































