SEMARANG, Lingkarjateng.id – Kondisi Pasar Bulu Kota Semarang masih sepi usai revitalisasi. Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Semarang menilai pasar tersbeut butuh perubahan konsep secara menyeluruh agar kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Berdasarkan pantauan di lokasi, aktivitas perdagangan di Pasar Bulu terlihat menurun terutama pada siang hari.
Area basemen masih ramai pada pagi hari namun suasana berbeda terlihat di lantai dua dan tiga yang relatif sepi dari aktivitas pedagang maupun pembeli.
Sebaliknya, aktivitas jual beli masih tampak berlangsung di area belakang pasar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa revitalisasi fisik belum sepenuhnya mampu mengubah pola perdagangan yang telah terbentuk sebelumnya.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Aniceto Magno Da Silva, mengakui masih banyak kios di Pasar Bulu yang belum beroperasi optimal.
Menurutnya, sejumlah pedagang masih enggan menempati kios di lantai atas sehingga berdampak pada minimnya kunjungan pembeli.
“Memang banyak kios di Pasar Bulu yang masih sepi. Pedagang juga masih enggan naik ke lantai atas setelah revitalisasi dilakukan,” ujar Aniceto, yang akrab disapa Amoy.
Persoalan serupa juga terjadi di Pasar Peterongan. Kedua pasar tersebut kini menjadi fokus perhatian Disdag Kota Semarang untuk dikembalikan fungsinya sebagai pusat perdagangan yang hidup dan ramai.
Menurut Amoy butuh pendekatan berbeda untuk menghidupkan kembali pasar-pasar yang telah direvitalisasi.
Salah satu konsep yang sedang dipertimbangkan adalah mengadopsi model pengelolaan seperti pusat oleh-oleh Krisna di Bali yang menggabungkan konsep pasar tradisional dengan sentra produk UMKM modern.
“Setelah pasar tradisional direvitalisasi menjadi lebih modern, maka harus ada perubahan konsep. Salah satu referensi yang kami lihat adalah konsep Krisna di Bali yang memadukan produk UMKM, kuliner, kopi, dan berbagai produk lokal dalam satu kawasan,” jelasnya.
Disdag Kota Semarang saat ini telah menyiapkan desain serta konsep penataan ulang Pasar Bulu dan Pasar Peterongan.
Konsep tersebut nantinya akan dipaparkan kepada Wali Kota Semarang sebagai bahan pertimbangan pengembangan pasar ke depan.
Amoy menilai, jika diperlukan, kedua pasar tersebut harus menjalani perubahan secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi fisik bangunan tetapi juga pola penataan pedagang dan konsep usahanya.
“Kami sudah memiliki desain dan konsep. Nanti akan kami paparkan kepada Ibu Wali Kota. Jika memang diperlukan, pasar ini harus mengalami perubahan total dan penataan ulang,” tegasnya.
Untuk pasar-pasar lain yang mengalami persoalan serupa, Disdag akan menerapkan strategi yang berbeda sesuai karakteristik wilayah dan kebutuhan masing-masing pasar.
“Setiap pasar memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga treatment yang diberikan juga tidak bisa disamakan,” tambahnya.
Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD Kota Semarang, Mararas Apuwara, menilai sejumlah pasar tradisional yang telah direvitalisasi masih belum mendapatkan penanganan lanjutan yang maksimal sehingga keberadaannya terkesan berjalan tanpa arah yang jelas.
Menurutnya, pemerintah perlu menghadirkan program khusus untuk meningkatkan daya tarik pasar agar kembali ramai dikunjungi masyarakat.
“Memang ada beberapa pasar yang setelah direvitalisasi justru sepi. Ini perlu treatment khusus agar pasar kembali hidup dan menjadi tujuan masyarakat,” katanya.
Mararas juga menekankan pentingnya menghadirkan identitas atau ikon khas pada setiap pasar tradisional.
Dengan memiliki ciri khas yang kuat, pasar dinilai akan lebih mudah dikenal dan memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan pasar lainnya.
“Setiap pasar harus memiliki ikon yang menjadi kekuatannya. Identitas itu yang perlu diangkat agar pasar memiliki roh dan daya tarik bagi masyarakat,” tuturnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Ulfa

































