BATANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang membuka peluang investasi baru melalui proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha Alat Penerangan Jalan Umum (KPBU APJU) senilai Rp153 miliar. Langkah ini ditandai dengan kegiatan penjajakan minat pasar (market sounding) yang dipimpin langsung Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, di Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 120 peserta yang terdiri dari investor, kontraktor, hingga lembaga pembiayaan. Hadir pula perwakilan Kementerian Keuangan, Kemendagri, Bappenas, Plt Dirut PT PII, serta jajaran pimpinan DPRD Kabupaten Batang.
Bupati Faiz menegaskan kebutuhan penerangan jalan umum di wilayahnya sudah mendesak. Ia mengungkapkan, angka kecelakaan terus meningkat dari 500 kejadian pada 2023, menjadi 520 pada 2024, hingga hampir 550 kejadian pada 2025.
Selain itu, meningkatnya aktivitas industri membuat banyak pekerja harus beraktivitas pada malam hari, sementara kondisi jalan yang minim penerangan dinilai berisiko terhadap keamanan. Keterbatasan lampu jalan juga menghambat pertumbuhan ekonomi malam hari.
Menurutnya, saat ini layanan PJU di Batang baru menjangkau sekitar 37 persen atau sekitar 4.000 lampu dari total kebutuhan 13.000 titik.
“Jika setiap tahun kita hanya bisa mengadakan 100 titik PJU baru, masa masyarakat harus menunggu 90 tahun. Kita pasti akan semakin tertinggal dan masyarakat harus merasakan kondisi yang tidak aman ketika malam hari,” jelasnya.
Melalui skema KPBU yang selaras dengan program “Batang Terang” dalam RPJMD 2025–2029, Pemkab Batang menggandeng sektor swasta untuk mempercepat penyediaan infrastruktur tersebut.
Secara teknis, proyek ini akan mencakup sekitar 8.500 titik jalan dengan total 9.387 lampu yang tersebar di jalur nasional Pantura, jalan provinsi, dan jalan kabupaten. Selain itu, sistem akan dilengkapi dengan 150 titik CCTV serta sensor udara dan banjir.
Bupati Faiz meyakini proyek ini akan memberikan dampak berantai bagi perekonomian daerah, terutama dalam mendorong aktivitas ekonomi malam hari di kawasan industri.
“Pabrik itu 2-3 shift, semua pabrik itu bisa bekerja, warung-warung makan di dekat pabrik bisa didatangi oleh pekerja, potensi pendapatan bertambah, tenaga kerjanya juga bertambah meningkat karena aktivitas-aktivitas ekonomi yang ada di lingkungan tersebut,” tegasnya.
Kepala Bapperida Batang, Bagus Pambudi, menjelaskan market sounding menjadi tahap penting sebelum lelang proyek.
“Ada empat tujuan utama dari penjajakan ini, yaitu menyampaikan skema proyek, mengukur ketertarikan pasar, mengumpulkan masukan para pelaku usaha, serta mempersiapkan mereka menuju tahap lelang,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pengumuman lelang direncanakan pada Juli 2026, dengan penetapan pemenang dan penandatanganan kerja sama pada November 2026.
Adapun tahap konstruksi ditargetkan dimulai Desember 2026, dengan penyelesaian 50 persen titik lampu pada April 2027 dan sisanya pada Juli 2027.
Ia menyebut proyek ini memiliki nilai belanja modal sekitar Rp153 miliar dengan biaya operasional Rp3,4 miliar per tahun. Skema pengembalian investasi menggunakan mekanisme Availability Payment dengan masa konsesi 10,5 tahun.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Rosyid
































