KENDAL, Lingkarjateng.id – Wakil Bupati (Wabup) Kendal, Benny Karnadi, menanggapi banyaknya aduan warga terkait penghentian bantuan sosial (bansos) lantaran terindikasi bermain judi online (judol).
Benny mengungkapkan Keluarga Penerma Manfaat (KPM) yang terindikasi bermain judol secara otomatis akan terhapus dari penerima bansos yang disalurkan Kementerian Sosial (Kemensos).
Oleh karena itu, Benny mengingatkan warga agar tidak menggunakan bansos untuk hal-hal negatif, termasuk bermain judol.
“Seperti lagunya Rhoma Irama bahwa bermain judi itu haram, jadi kalau bantuan ini digunakan untuk bermain slot atau judol maka kemudian secara otomatis nama penerima akan terhapus. Bahkan yang main slot tahun sebelumnya juga akan terkena konsekuensi,” kata Benny, Selasa, 18 November 2025.
Benny menekankan bahwa bansos disalurkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengurangi kemiskinan, dan memberikan dukungan ekonomi bagi keluarga miskin, tidak mampu, dan rentan.
Oleh karena itu, ia mengimbau agar penerima manfaat mempergunakan bantuan dengan semestinya dan dapat melakukan graduasi secara sukarela, sehingga nantinya dapat digantikan penerima manfaat yang lebih membutuhkan.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kendal, Muntoha, menyampaikan hingga saat ini ada 561 penerima bansos di Kendal yang dihapus oleh Kementerian Sosial (Kemensos) karena terindikasi bermain judol.
“Makanya kalau terindikasi bermain judol, semua bansos dari Kemensos itu langsung dihentikan,” katanya.
Muntoha mengaku pihaknya banyak menerima aduan dan klarifikasi dari penerima bansos yang dihentikan tersebut.
Namun, ia menegaskan Dinsos Kendal tidak dapat berbuat apa-apa lantaran hal tersebut diputuskan langsung oleh Kemensos.
“Mereka mengadu kok bantuannya dihentikan, setelah kita cek ternyata itu rekening yang bersangkutan ada indikasi judol. Karena bansos itu yang memberikan dari Kemensos maka kewenangannya di sana. Dan berdasarkan arahan memang tidak bisa mengajukan keberatan, karena kami bekerja berdasarkan sistem,” beber Muntoha.
Menurutnya, masyarakat yang mengadu tersebut banyak yang merasa kecewa karena bantuannya dihentikan tiba-tiba.
“Mereka yang protes itu ya dengan gestur kecewa. Ya kita tidak bisa membantu apa-apa karena kita kerja berdasarkan sistem. Kalau sudah terindikasi judol semua bantuan yang diterima baik PKH, BPNT, PKH dan lainnya otomatis hilang,” pungkasnya.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Rosyid





























