KENDAL, Lingkarjateng.id – Peristiwa jebolnya Kali Bodri, Desa Kebonharjo, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal 21 Januari 2025 masih menyisakan kekhawatiran masyarakat. Pasalnya, hingga bulan November tanggul permanen belum kunjung terealisasi. Warga khawatir sungai meluap kembali menyusul datangnya musim penghujan.
Koordinator Petak Bodri, Arif Fajar Hidayat, pada Jumat, 7 November 2025 menjelaskan kondisi tanggul Kali Bodri sebelah utara masjid Manarul Husna beberapa waktu lalu dilaporkan warga dalam kondisi kritis.
Laporan tersebut telah direspons Dinas PUPR Kabupaten Kendal dengan membuat tanggul darurat. Menurut Arif, dalam sepekan ini sudah dipasang trucuk bambu sebagai penanganan sementara.
“Kurang lebih sepekan ini sudah dipasang trucuk bambu sepanjang 50 meter. Nantinya akan di perpanjang lagi,” terangnya.
Tuntut Perbaikan Tanggul Kali Bodri Kendal, Ribuan Warga Gelar Doa Bersama
Namun pemasangan trucuk bambu menemui kendala lantaran terdapat longsoran batu dari sender sebelumnya yang mengakibatkan bambu tidak bisa dipasang maksimal.
“Info dari pekerjanya kadang di bawah kepentok batu batu,” lanjutnya.
Pemasangan trucuk bambu sebagai penanganan sementara tanggul Kali Bodri belum selesai hingga Kamis, 6 November 2025. Warga juga khawatir lantaran pada Kamis sore ketinggian Bendungan Juwero sempat di angka 150 cm.
Namun, ketika dicek pada Jumat pagi, warga cukup lega karena trucuk bambu yang terpasang masih kokoh berdiri.
“Alhamdulillah trucuknya masih kokoh. Malah debit air kemarin bisa jadi test drive kekuatan trucuknya,” ucapnya.
Bupati Kendal Siap Bantu Koordinasi Penanganan Tanggul Kali Bodri
Menurut Arif masih ada beberapa hal yang memerlukan perbaikan, tetapi hal tersebut dapat disampaikan ke petugas lapangan untuk ditindaklanjuti.
“Selain mengadvokasi perbaikan tanggul, nanti juga akan diadakan kegiatan semacam pelatihan tanggap bencana. Hari hari ini warga masih trauma. Maka perlu ada pelatihan tanggap bencana. Kegiatan ini bertajuk Kebonharjo Siaga,” bebernya.
Pelatihan tanggap bencana, kata dia, untuk memberikan pembekalan kepada masyarakat agar lebih siap baik secara mental dan keterampilan/teknis dalam menghadapi bencana. Sebab potensi risiko bencana banjir di Desa Kebonharjo relatif tinggi.
Meskipun sudah terpasang trucuk sebagai penangangan darurat, warga berharap tetap dibangun tanggul permanen.
“Kami coba akan terus meminta provinsi Jawa tengah agar tanggul permanen di tahun anggaran 2026 bisa terealisasi,” pungkasnya.
Jurnalis: Unggul Priambodo
Editor: Ulfa






























