BOYOLALI, Lingkarjateng.id – Wakil Gubernur Jawa Tengah (Wagub Jateng), Taj Yasin Maimoen, mendorong para santri, khususnya duta santri nasional 2025, untuk aktif mengedukasi masyarakat dan lingkungan pesantren terkait persoalan pernikahan dini.
Taj Yasin menilai isu ini perlu dijembatani dengan sudut pandang keagamaan agar tidak menimbulkan stigma negatif terhadap pesantren.
“Banyak pondok pesantren yang masih melakukan pernikahan di bawah usia. Ini bukan untuk disalahkan, tetapi perlu dijelaskan dengan sudut pandang pesantren agar bisa diterima secara bijak,” ujar Taj Yasin saat menghadiri puncak Anugerah Duta Santri Nasional 2025 di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat, 24 Oktober 2025.
Menurutnya, persoalan pernikahan dini kerap dipandang berbeda antara lembaga perlindungan perempuan dan kalangan pesantren. Lembaga internasional, kata dia, menganggapnya sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan, sementara pesantren melihatnya dari sudut pandang syariat.
“Kalau dilihat dari organisasi internasional, pernikahan dini dianggap kekerasan terhadap perempuan. Tapi di pesantren, sudut pandangnya adalah bagaimana agar tidak melanggar syariat. Dua-duanya benar, hanya berbeda cara pandang,” jelasnya.
Taj Yasin menilai, peran duta santri sangat penting untuk menjembatani dua pandangan tersebut. Menurutnya, santri perlu tampil sebagai komunikator yang bisa menjelaskan nilai-nilai keagamaan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat luas.
“Saya berharap duta santri ini bisa menjawab permasalahan itu dengan cara yang diterima semua pihak. Edukasi santri sangat dibutuhkan, terutama untuk mengajak masyarakat memahami konteks syariat dan kematangan usia dalam pernikahan,” tegasnya.
Ia juga menyinggung fenomena pergeseran usia dewasa di kalangan pelajar yang semakin cepat. Menurutnya, anak-anak SD kini sudah mengalami perubahan perilaku dan rasa ingin tahu yang besar, sehingga perlu mendapat pembinaan karakter dan pemahaman agama yang lebih kuat.
“Kalau dulu anak SMP baru mulai pubertas, sekarang anak SD sudah. Ini tantangan kita bersama, bagaimana mendidik agar mereka matang secara akal dan spiritual,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Taj Yasin berharap duta santri nasional tidak hanya fokus pada isu keagamaan, tetapi juga aktif menyuarakan isu-isu sosial seperti perlindungan perempuan, pendidikan santri, dan pembangunan karakter generasi muda.
“Santri jangan hanya bicara soal pesantren, tapi juga isu-isu aktual. Santri harus hadir memberi solusi dan menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” tandasnya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Rosyid































