BLORA, Lingkarjateng.id – Komisi B DPRD Blora berencana memanggil seluruh badan usaha milik daerah (BUMD) untuk melakukan evaluasi kinerja perusahaan pelat merah di wilayah setempat. Langkah itu dilakukan menyusul rendahnya kontribusi BUMD terhadap pendapatan asli daerah (PAD) yang dinilai belum optimal.
Ketua Komisi B DPRD Blora, Jayadi, mengatakan evaluasi diperlukan untuk mengetahui berbagai persoalan yang menyebabkan setoran dividen dari BUMD masih minim.
“Karena kemarin setoran PAD masih sedikit. Memang ada banyak kendala, tapi kami belum tahu detail persoalannya seperti apa,” ujar Jayadi di Blora, Kamis, 21 Mei 2026.
Ia menjelaskan, pada tahun 2026 pihaknya akan memanggil masing-masing BUMD secara bergantian guna membahas kendala yang dihadapi sekaligus mencari solusi peningkatan kinerja perusahaan daerah.
“Kami ingin memberi solusi supaya kinerja BUMD lebih bagus dan PAD yang masuk ke daerah bisa lebih besar,” ujarnya.
Setelah melakukan pemanggilan terhadap PT Blora Patra Energi (BPE), Komisi B DPRD Blora dijadwalkan melanjutkan evaluasi terhadap sejumlah BUMD lainnya. Forum tersebut juga akan dimanfaatkan untuk bertukar gagasan terkait strategi pengembangan usaha daerah.
Menurut Jayadi, potensi peningkatan PAD masih cukup besar, terutama dari sektor minyak dan gas. Apalagi pemerintah pusat telah memberikan izin operasional terhadap sumur minyak rakyat di Kabupaten Blora.
“Sekarang ada sumur-sumur minyak baru dari program sumur rakyat. Itu juga akan menjadi fokus,” ucapnya.
Tak hanya sektor migas, DPRD juga akan menyoroti kinerja perusahaan daerah lain, seperti PDAM hingga BUMD yang bergerak di bidang perdagangan dan jasa.
“PDAM dan yang lain juga akan kami panggil untuk kami beri masukan dan solusi agar kinerjanya bisa lebih maksimal,” tegasnya.
Sementara itu, kondisi Perumda Blora Wira Usaha (BWU) juga menjadi perhatian DPRD. Jayadi menilai perkembangan perusahaan tersebut hingga kini belum menunjukkan perubahan signifikan.
“Kalau BWU masih kami pikirkan juga. Kondisinya ya hidup enggan mati tak mau,” pungkasnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Rosyid
































