DEMAK, Lingkarjateng.id – Pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa di wilayah Kabupaten Demak dijadwalkan mulai ditandai dengan peletakan batu pertama atau groundbreaking pada 17 Oktober 2026.
Sekretaris Daerah (Sekda) Demak Akhmad Sugiharto mengatakan informasi mengenai jadwal groundbreaking tersebut telah diterima Pemkab Demak. Namun, pihaknya belum memperoleh kepastian mengenai pejabat yang akan hadir dalam kegiatan tersebut.
“Groundbreaking-nya sekitar tanggal 17 Oktober kalau nggak salah. (Yang turun langsung) kalau tidak Presiden, ya Pak Menteri Pekerjaan Umum Dody atau Pak AHY. Informasinya di wilayah Timbulsloko,” ujarnya, Selasa, 6 Oktober 2026.
Sugiharto mengatakan Demak diproyeksikan menjadi prioritas dalam pembangunan Giant Sea Wall. Informasi tersebut, kata dia, diperoleh dari Badan Otoritas Pesisir.
“Untuk Giant Sea Wall, informasi dari Badan Otoritas Pesisir, Demak ini nanti akan menjadi prioritas utama untuk Giant Sea Wall,” kata Sugiharto.
Pemkab Demak, lanjut Sugiharto, akan terus melakukan komunikasi dan mendorong pemerintah pusat agar pembangunan tanggul laut raksasa tersebut benar-benar memprioritaskan wilayah Demak.
“Kita berdoa bersama dan Pemda juga mendorong ke pusat, kepada badan otoritas, agar betul-betul Demak ini menjadi prioritas utama untuk pembangunan Giant Sea Wall,” sambungnya.
Meski jadwal awal pembangunan telah diinformasikan, Pemkab Demak belum mengetahui secara rinci desain maupun cakupan pembangunan Giant Sea Wall. Termasuk mengenai total panjang tanggul, pemerintah daerah masih menunggu perencanaan yang disusun pemerintah pusat.
“Untuk panjangnya, kita belum tahu, karena perencanaannya masih di pusat semuanya,” katanya.
Pembangunan Giant Sea Wall menjadi salah satu upaya yang diharapkan mampu mengatasi persoalan banjir rob yang terus melanda kawasan pesisir Demak.
Rob selama ini tidak hanya menggenangi permukiman, tetapi juga meluas ke sejumlah ruas jalan sehingga menghambat aktivitas warga dan berdampak terhadap kegiatan ekonomi.
Selain rencana pembangunan Giant Sea Wall, proyek Hybrid Sea Wall juga tengah berjalan di kawasan pesisir Demak. Proyek tersebut mendapat pendanaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Sugiharto berharap keberadaan Giant Sea Wall bersama Hybrid Sea Wall dapat mengurangi tekanan banjir rob di wilayah pesisir. Namun, ia mengingatkan pembangunan tanggul harus dibarengi dengan pengaturan aliran air.
Menurutnya, sistem perlindungan pesisir tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan penghalang air laut. Saluran dan ruang bagi pergerakan air tetap harus disiapkan agar pembangunan tanggul tidak memunculkan persoalan baru.
“Harapan dengan adanya Hybrid dan Giant Sea Wall ini dampak rob yang terjadi di Demak semakin berkurang. Tapi dengan catatan tidak hanya Giant Sea Wall saja, tapi berikan air itu tempat, berikan air itu jalur. Jadi tidak ditutup total, tidak. Jadi air dari laut itu tetap ada jalannya atau ada tempatnya,” pungkasnya.
Jurnalis: Lingkar Network/M. Burhanuddin Aslam
Editor: Muslichul Basid






























