DEMAK, Lingkarjateng.id – Petani garam di Desa Babalan, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak meminta pemerintah mengevaluasi penyaluran bantuan geomembaran karena dinilai tidak optimal.
Salah satu petani garam, Nur Kafi, mengatakan bantuan geomembran dari pemerintah terlalu ribet dam tidak sepadan dengan proses yang harus dilalui. Selain itu, bantuan juga tidak rutin setiap tahun.
Kadi mengungkapkan bahwa bantuan pemerintah berupa gemembran untuk mendukung produksi garam pernah tersedia, tetapi tidak secara rutin setiap tahun.
Menurutnya, bantuan tersebut bahkan bisa baru tersedia dalam rentang waktu dua hingga lima tahun. Ketika bantuan tersedia, petani juga masih harus melalui berbagai tahapan administrasi dan pengurusan yang dinilai cukup merepotkan.
“Bantuan pemerintah pendak gluduk ter lagi ono, itupun tidak setiap tahun ada, mungkin dua tahun, lima tahun baru ada, itupun hanya membran satu. Tapi untuk mengurus hal itu sangat merepotkan, lari ke sana kemari,” terangnya, Senin, 5 Oktober 2026.
Investor China Lirik Potensi Garam di Jateng, Butuh Lahan 3.000 Hektare
Satu membran yang diterima terkadang juga belum mencukupi kebutuhan petani dalam menjalankan usaha produksi garam. Kondisi tersebut membuat manfaat bantuan dirasakan belum maksimal.
Kafi menilai, proses pengurusan bantuan yang membutuhkan waktu, tenaga, serta kelengkapan administrasi seharusnya sebanding dengan hasil bantuan yang diterima petani.
“Adapun satu membran itu pun kadang kurang, tidak sesuai antara kesulitan mengurus berbagai halnya seperti administrasi dan lain sebagainya. Setelah mengikuti semua alurnya, hasil bantuannya tidak setimpal dengan usaha yang dikeluarkan,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat mengevaluasi mekanisme pemberian bantuan kepada petani garam, terutama dari sisi kemudahan pengurusan, kesinambungan program, serta kesesuaian jumlah bantuan dengan kebutuhan di lapangan.
Dengan demikian, bantuan yang diberikan tidak hanya sekadar tersalurkan, tetapi benar-benar mampu mendukung peningkatan produksi dan kesejahteraan petani garam.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa
































