Blora (lingkarjateng.id) – Bau tak sedap diduga dari limbah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2-Tunjungan, Kabupaten Blora, membuat resah masyarakat. Pencemaran lingkungan itu diakibatkan oleh operasional SPPG program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pantauan di lapangan, limbah cair tersebut mengalir ke luar areal operasional dapur, hingga mengakibatkan bau yang tidak sedap di tengah lingkungan pemukiman warga setempat.
Dimintai konfirmasi, Kepala SPPG Sukorejo 2-Tunjungan, Ahmad Afif Jaelani, membenarkan adanya keluhan masyarakat terhadap gangguan tersebut. Namun ia mengaku, tanah tersebut masih milik mitra dan bukan lahan umum.
“Untuk pencemaran lingkungan sih itu kan termasuk tanahnya dari mitra ini sendiri, sebenarnya. Jadi kalaupun tercemar pun itu masih di lingkungan tanah mitra itu sendiri,” ujar Afif, ditemui pada Senin (04/05/2026).
Jadi, sambung Afif, bila terjadi pencemaran masih dilingkungan lahan mitra. Selanjutnya, penanganan limbah pihaknya masih mengajukan ke pihak yayasan untuk dilakukan pengadaan.
“Memang kami sedang mengajukan ke yayasan. Nah ini kebetulan alat sudah datang untuk yang IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) bio-tank,” ungkapnya.
Afif menjelaskan, selama ini SPPG telah memiliki IPAL, namun kapasitasnya dinilai belum memadai sehingga menyebabkan air limbah meluber dan menimbulkan bau.
“Sebenarnya kami sudah ada IPAL yang standar tiga itu sudah ada. Cuma kan kapasitasnya memang belum cukup ya, jadi mungkin meluber,” jelasnya.
“Terus ini kan kami juga perbaikan, alatnya sudah datang seperti itu,” tambah Afif.
Disisi lain, Afif juga menyebut ada beberapa masukan dari warga yang mengeluhkan bau limbah yang meluber. Saat ini, pihaknya berupaya melakukan sedot IPAL tiga kali dalam satu Minggu.
“(Keluhan) Warga ada. Untuk antisipasi komplain masyarakat, jadi seminggu kami sedot IPAL itu tiga kali,” ungkapnya.
Afif memastikan pemasangan IPAL bio-tank akan dipercepat. Pasalnya saat ini sudah dimulai pemasangan.
Sementara itu, Koordinator SPPG Kecamatan Tunjungan, Setiawan Pambudianto, yang mewakili Koordinator Wilayah Kabupaten Blora, Artika Diannita, mengakui bahwa bau limbah yang menyengat cukup mengganggu.
Ia berharap pihak pengelola dapat segera menyelesaikan permasalahan tersebut, sehingga operasional dapur SPPG tidak menjadi keluhan masyarakat sekitar.
“Untuk aroma sendiri memang cukup mengganggu ya saya rasa. Jadi dari pihak SPPG sendiri tadi juga sudah dijelaskan bahwa saat ini sedang dalam proses pembangunan atau penyelesaian keluhan masyarakat,” ujar Setiawan.***
Jurnalis : Eko Wicaksono
Editor : Fian































