KENDAL, Lingkarjateng.id – Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) Jawa Tengah mengapresiasi langkah Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang menindaklanjuti aspirasi peternak dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI beberapa hari lalu.
Ketua KPUS Jawa Tengah, Suwardi, yang turut mewakili peternak dalam RDP tersebut, menyebut tindak lanjut pemerintah menjadi harapan bagi peternak yang saat ini menghadapi persoalan tingginya biaya pakan dan terbatasnya penyerapan telur saat produksi melimpah.
“Kami mengapresiasi langkah Pak Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pangan Nasional yang menindaklanjuti aspirasi peternak. Kami berharap ada kepastian terkait ketersediaan jagung dan penyerapan telur agar peternak bisa terus bertahan,” ujar Suwardi yang juga anggota DPRD Kendal, Senin, 12 Oktober 2026.
Ia menuturkan, salah satu pembahasan penting dalam RDP tersebut adalah pemenuhan kebutuhan jagung untuk pakan ternak periode Oktober hingga Februari. Bulog menyampaikan ketersediaan jagung sekitar 40.000 ton. Sementara itu, pemerintah menetapkan program SPHP jagung tahap kedua sebanyak 150.000 ton, dengan tambahan kebutuhan peternak sekitar 73.000 ton untuk lima bulan ke depan.
“Kami peternak berharap pasokan jagung dapat dipenuhi sesuai kebutuhan. Pemerintah juga berencana menata tata niaga jagung melalui bantuan benih dan alat pemipil bagi petani serta penyerapan hasil panen oleh Bulog ketika terjadi kelebihan pasokan,” ujarnya.
Selain itu, menurut Suwardi, pemerintah menyampaikan penetapan harga bahan baku pakan soybean meal atau bungkil kedelai sebesar Rp8.630 per kilogram yang disediakan melalui Berdikari.
Suwardi mengatakan, persoalan lain yang mendesak adalah penyerapan telur ayam ras, terutama ketika terjadi kelebihan pasokan yang berdampak pada harga di tingkat peternak.
“Peternak meminta pemerintah mengoptimalkan program-programnya untuk menyerap telur sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP). Penyerapan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga diharapkan diperkuat karena saat ini baru sebagian yang mengikuti ketentuan dalam surat edaran Kepala Badan Gizi Nasional (BGN),” tegasnya.
Ia menyebut pihaknya juga turut mengusulkan agar bantuan pangan pemerintah dapat memasukkan telur sebagai komoditas bantuan untuk membantu menyerap produksi sekaligus memenuhi kebutuhan protein masyarakat.
Di sisi lain, pemerintah menyetujui rencana pembangunan pabrik tepung telur dan tepung daging di tiga wilayah yang kerap mengalami kelebihan pasokan telur, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lampung.
“Rencana investasi pabrik pengolahan tersebut di Kendal diperkirakan mencapai Rp200 miliar. Kehadirannya diharapkan menjadi alternatif penyerapan hasil peternakan sekaligus memperluas pasar produk olahan telur dan daging,” tambah Suwardi.
Suwardi juga berharap pengembangan industri perunggasan melalui Danantara lebih diarahkan pada penguatan sektor hulu dan hilir tanpa masuk ke usaha budi daya yang menjadi ruang peternak rakyat. Sektor hulu direncanakan difokuskan pada penyediaan anak ayam umur sehari (DOC) dan pabrik pakan agar harga lebih terjangkau.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Ketua, Wakil Ketua, dan seluruh anggota Komisi IV DPR RI yang telah menerima serta memperjuangkan aspirasi peternak.
“Kami berharap Komisi IV DPR RI terus mengawal persoalan ini hingga ada kepastian pasokan jagung dan penyerapan telur. Usaha ayam petelur menjadi sumber penghidupan keluarga peternak sekaligus berperan menjaga ketahanan pangan nasional,” pungkasnya.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Muslichul Basid































