SALATIGA, Lingkarjateng.id – Maraknya kasus perundungan (bullying), kecanduan gawai, hingga menurunnya nilai kesopanan di kalangan anak dan remaja menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus globalisasi, Pendidikan Agama Islam (PAI) dinilai memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang berkarakter, berintegritas, dan berakhlak mulia.
Pandangan tersebut disampaikan Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, Hj. Ida Nurul Farida, M.Pd, saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema Urgensi Pendidikan Agama Islam dalam Pembentukan Karakter Anak yang diselenggarakan DPD AGPAII Kabupaten Semarang di Resto Okego, Salatiga, Selasa, 23 Juni 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan Kementerian Agama, Dinas Pendidikan, PGRI, kepala sekolah, guru, serta pengawas pendidikan. Dalam kesempatan itu, Ida menegaskan bahwa persoalan degradasi karakter yang terjadi di kalangan generasi muda harus mendapat perhatian serius dari seluruh pihak.
“Karakter mulia tidak tumbuh secara otomatis. Karakter harus dibentuk, ditanamkan, dan dibina secara terencana sejak usia dini,” ujar Ida.
Menurutnya, Pendidikan Agama Islam tidak cukup dipahami sebagai mata pelajaran yang berorientasi pada hafalan maupun transfer pengetahuan keagamaan semata. Lebih dari itu, PAI harus menjadi media penanaman nilai-nilai kehidupan yang mampu membentuk pribadi berakhlakul karimah dan memiliki keseimbangan hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia.
Ida menjelaskan, terdapat tiga peran strategis Pendidikan Agama Islam dalam menghadapi tantangan era digital. Pertama, sebagai fondasi spiritual yang menanamkan ketakwaan sehingga mampu menjadi pengendali perilaku dari dalam diri anak. Kedua, sebagai kompas moral yang membantu generasi muda menyaring berbagai pengaruh negatif, baik dari budaya luar maupun konten digital yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral.
Ketiga, PAI berperan dalam membangun kecerdasan emosional melalui penanaman nilai empati, kesabaran, kejujuran, serta tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
“Di tengah banjir informasi yang tidak semuanya positif, anak-anak membutuhkan pegangan moral yang kuat agar tidak mudah terpengaruh hal-hal yang merusak karakter,” ujarnya.
Ia juga mendorong adanya perubahan pendekatan pendidikan karakter di sekolah. Menurutnya, metode pembelajaran yang terlalu menitikberatkan pada hafalan dan instruksi perlu diimbangi dengan pendekatan yang lebih persuasif melalui keteladanan, pembiasaan ibadah, dialog yang hangat, serta penerapan penghargaan dan konsekuensi yang mendidik.
Pada kesempatan tersebut, Ida mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat sinergi dalam pendidikan karakter anak. Menurutnya, keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial memiliki peran yang saling melengkapi dalam membentuk kepribadian generasi muda.
Rumah, kata dia, merupakan madrasah pertama bagi anak. Sementara sekolah berfungsi memperkuat nilai-nilai karakter secara sistematis, dan masyarakat menjadi ruang praktik nyata bagi penerapan akhlak yang telah diajarkan.
“Pendidikan Agama Islam adalah investasi peradaban. Keberhasilannya membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan kolaborasi kuat antara orang tua, guru, serta masyarakat,” pungkasnya.
Ia menambahkan, penguatan Pendidikan Agama Islam menjadi langkah strategis untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat serta mampu menghadapi berbagai tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai moral dan keagamaan.
Jurnalis: Lingkarjateng Group Network
































