KAB. SEMARANG, Lingkarjateng.id – Hujan deras disertai angin kencang melanda wilayah perbatasan Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga pada Selasa siang, 4 November 2025. Bencana alam tersebut menyebabkan sejumlah bangunan mengalami kerusakan akibat tertimpa pohon tumbang.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang, sejumlah titik di Kecamatan Tuntang, seperti Desa Sraten dan Desa Gedangan, menjadi lokasi terdampak paling parah.
Pantauan di lapangan menunjukkan beberapa rumah warga porak-poranda setelah tertimpa pohon besar yang tumbang akibat terpaan angin kencang.
Warga Dusun Sraten, Desa Sraten, Ariani (44), mengaku rumahnya rusak berat akibat tertimpa pohon nangka.
“Memang saya tidak ada di rumah, kerja dengan suami saya, tapi kami dikabari tetangga bahwa rumah kami rusak karena tertimpa pohon tumbang waktu tadi hujan deras itu terjadi,” katanya.
Ia menuturkan bahwa sebelum kejadian, angin berembus sangat kencang disertai hujan deras.
“Ditambah hujan yang sangat deras sekali turun, sehingga pohon nangka yang ada di sebelah rumah kami ini tumbang dan menimpa atap rumah di bagian ruang keluarga. Rusak atapnya, ini dalamnya basah semua karena atapnya bolong,” ujarnya.
Ariani kemudian melaporkan peristiwa itu ke pemerintah desa setempat.
Kepala BPBD Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro, menjelaskan bahwa bencana akibat cuaca ekstrem tersebut mengakibatkan kerusakan di tujuh titik berbeda.
“Akibat cuaca ekstrem yang terjadi, baik di Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga, di Kabupaten Semarang sendiri ini menyebabkan bangunan di tujuh titik mengalami kerusakan. Rata-rata yang terdampak itu rumah warga,” kata Alex.
Ia menambahkan, total ada lima pohon tumbang di tujuh titik tersebut yang beberapa di antaranya menimpa rumah warga.
“Beberapa di antaranya menimpa rumah penduduk, ada juga yang tidak menimpa rumah warga. Yang jelas kondisinya bisa kami antisipasi dan kami atasi, sehingga sampai saat ini tidak ada laporan ke kami adanya korban, baik korban luka dan korban jiwa,” tegasnya.
Menurut Alex, BPBD bersama unsur TNI, Polri, dan aparat wilayah langsung bergerak melakukan evakuasi dan pembersihan material pohon tumbang.
“Kalau dampak kerusakan pasti ada, di mana ada lima rumah warga mengalami kerusakan pada bagian atapnya di tujuh titik tersebut. Dan sampai saat ini masih kami data untuk dampak kerusakan lainnya, artinya ada yang rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan,” imbuhnya.
Ia menyebut, kerusakan paling parah terjadi pada sebuah bengkel milik warga yang ambruk dan merusak beberapa kendaraan di dalamnya.
“Penanganan tentu kami lakukan, dalam hal ini kami berkoordinasi dengan Kota Salatiga karena terjadinya bencana ini ada di perbatasan kedua wilayah,” ujarnya.
Alex juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan terjadi hingga awal tahun 2026.
Sementara itu, Kepala BPBD Kota Salatiga, Roy Anjar, mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem menyebabkan pohon tumbang di 20 titik wilayah setempat.
“Ini bencana cuaca ekstrem hidrometeorologi, hujan disertai angin kencang, tersebar di beberapa titik, dari Kelurahan Kecandran sampai Noborejo di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Sidomukti dan Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga,” tuturnya.
Jurnalis: Hesty Imaniar
Editor: Rosyid





























