GROBOGAN, Lingkarjateng.id – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 mulai berdampak pada pola konsumsi masyarakat di Kabupaten Grobogan.
Sejumlah pengguna kendaraan bermotor memilih beralih ke Pertalite untuk mengurangi pengeluaran, meski harus menghadapi antrean yang lebih panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Berdasarkan pantauan di sejumlah SPBU di wilayah Grobogan, antrean kendaraan di dispenser Pertalite mengalami peningkatan, terutama untuk kendaraan roda dua. Kondisi tersebut mulai terlihat setelah penyesuaian harga Pertamax yang berlaku sejak 10 Juni 2026.
Salah seorang warga Purwodadi, Slamet (42), mengaku kini lebih memilih menggunakan Pertalite karena dinilai lebih terjangkau untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Ia menilai kenaikan harga Pertamax berdampak langsung terhadap biaya operasional yang harus dikeluarkan.
“Kalau pakai Pertamax sekarang biayanya terasa lebih mahal. Saya sehari-hari pakai motor untuk bekerja, jadi lebih memilih antre Pertalite meskipun harus menunggu lebih lama. Yang penting pengeluaran harian bisa lebih hemat,” ujarnya, Jumat, 12 Juni 2026.
Perubahan pilihan BBM juga dilakukan Hana (35), warga Pengkol. Ia mengatakan penggunaan Pertalite menjadi salah satu cara untuk menekan biaya transportasi rumah tangga di tengah kenaikan harga Pertamax.
“Biasanya sesekali isi Pertamax, tetapi sekarang lebih sering cari Pertalite. Antre memang lebih panjang, tapi kalau dihitung-hitung lumayan menghemat biaya transportasi keluarga setiap bulan,” katanya.
Meski terjadi peningkatan permintaan Pertalite, Pemerintah Kabupaten Grobogan memastikan distribusi dan ketersediaan BBM di seluruh SPBU masih dalam kondisi normal.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Grobogan, Pradan Setyawan, mengatakan hingga kini tidak terdapat perubahan kuota maupun pola distribusi BBM di wilayah Grobogan.
“Informasi sementara tidak ada perubahan. Per SPBU per hari pasokannya masih wajar, tidak ada pengurangan maupun penambahan. Stok dijamin aman,” kata Pradan.
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga menetapkan penyesuaian harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026. Kenaikan sebesar Rp3.950 per liter atau sekitar 32 persen tersebut dilakukan sebagai bagian dari evaluasi berkala harga BBM nonsubsidi yang mempertimbangkan perkembangan harga energi di pasar global.
Di sisi lain, harga Pertalite tetap berada di angka Rp10.000 per liter. Dengan demikian, selisih harga kedua jenis BBM tersebut kini mencapai Rp6.250 per liter.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Rosyid































