PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Petani di Kabupaten Pekalongan didorong meningkatkan frekuensi tanam hingga tiga kali dalam setahun atau mencapai indeks pertanaman (IP) 3.
Dorongan tersebut dilakukan melalui Gerakan Tanam 70.000 hektare Optimalisasi Lahan (Oplah) yang digelar serentak di 20 provinsi di Indonesia. Gerakan ini merupakan program Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
Untuk wilayah Jawa Tengah sendiri kegiatan dipusatkan di Desa Sumub Lor, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan, Senin, 31 Agustus 2026.
Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang (Polbangtan Yoma), Raden Hermawan, mengatakan gerakan tanam tersebut tidak sekadar bertujuan menambah luas areal tanam. Program itu juga diarahkan untuk mendorong petani meningkatkan indeks pertanaman dari IP1 atau IP2 menjadi IP3.
“Gerakan tanam pada hari ini serentak dilakukan di 20 provinsi di seluruh Indonesia, yang dipimpin oleh Ibu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP),” kata Hermawan.
Menurut Hermawan, sebagian petani selama ini masih menerapkan pola tanam satu hingga dua kali dalam setahun. Melalui optimalisasi lahan, petani ditarget mampu menerapkan pola tanam hingga tiga kali dalam setahun.
“Yang pertama, gerakan tanam ini bermaksud untuk memotivasi petani dalam rangka melakukan pertanaman, terutama untuk mencapai IP3. Selama ini petani hanya sampai pada IP2 atau IP1,” ujarnya.
Selain meningkatkan indeks pertanaman, ia mengungkapkan bahwa pemerintah juga mendorong percepatan waktu tanam.
“Petani yang biasanya nanti menanam di bulan September, kita ajukan di bulan Agustus. Kemudian yang biasanya ditanam di akhir September, itu diajukan di awal September,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pekalongan, Yudhi Himawan, mengatakan luas sawah di wilayahnya berdasarkan data awal mencapai sekitar 19.000 hektare. Namun, setelah dilakukan verifikasi lapangan, luasan tersebut diperkirakan sekitar 18.000 hektare.
“Untuk indeks pertanamannya kita di angka 2,1,” kata Yudhi.
Meski rata-rata indeks pertanaman Kabupaten Pekalongan berada di angka 2,1, sejumlah wilayah telah menunjukkan hasil yang lebih tinggi. Salah satunya Desa Sumub Lor yang mampu meningkatkan indeks pertanaman hingga IP3.
Yudhi menyebut, sebelumnya sebagian lahan di Desa Sumub Lor hanya ditanami sekitar satu kali dalam setahun. Kini, penerapan pola tanam hingga tiga kali telah dilakukan pada lahan dengan luasan hampir 100 hektare.
“Ini adalah pencapaian yang luar biasa,” ujarnya.
Yudhi mengapresiasi dukungan Kementerian Pertanian dan seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Pekalongan. Menurutnya, bantuan dan program pemerintah pusat dapat menjadi stimulus bagi petani untuk meningkatkan produktivitas.
Ia berharap sinergi pemerintah pusat dan daerah terus diperkuat, terutama dalam mendorong peningkatan produksi sekaligus kesejahteraan petani.
“Harapannya, dengan program ini berkembang, kita bisa bersinergi dengan pemerintah pusat. Bantuan yang merupakan stimulus ini bisa meningkatkan kinerja petani, meningkatkan produktivitas, yang muaranya adalah bisa meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan petani Kabupaten Pekalongan,” pungkasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Sekar































