PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pekalongan menghimpun para petani muda untuk berkolaborasi memajukan sektor pertanian melalui pemanfaatan teknologi.
DKPP Pekalongan memfasilitasi para petani muda untuk berkembang dengan menyelenggarakan pelatihan sekaligus musyawarah pemilihan Ketua Duta Petani Milenial (DPM) periode 2026–2028 pada Kamis, 25 Juni 2026.
Kepala Bidang Prasarana, Sarana, dan Penyuluhan Pertanian DKPP Pekalongan, Sutanto, mengatakan pelatihan dan pemilihan duta petani merupakan upaya pemerintah daerah dalam memperkuat regenerasi petani sekaligus meningkatkan kapasitas generasi muda di sektor pertanian.
“Anak-anak muda ini kan dekat dengan teknologi. Teknologi tersebut bisa diterapkan di lapangan sehingga produksi dan produktivitas pertanian di Kabupaten Pekalongan bisa meningkat,” ujarnya.
Sutanto juga mengajak generasi muda agar tidak ragu menekuni sektor pertanian karena dunia pertanian saat ini dapat banyak dukungan sarana prasarana yang memberikan kemudahan Bertani.
“Saya mohon kepada anak-anak muda, jangan takut bertani. Karena pertanian saat ini sudah sangat menjanjikan. Contohnya untuk komoditas padi, harganya juga sangat baik. Saya harapkan petani muda bisa bergabung di Duta Petani Milenial Kabupaten Pekalongan,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua DPM Pekalongan periode 2024–2026, Kuswanto, berharap kepengurusan baru mampu membawa organisasi semakin berkembang dengan dukungan pemerintah daerah.
Menurut Kuswanto, DPM merupakan wadah bagi petani muda untuk saling berbagi pengalaman, menyampaikan berbagai kendala di bidang pertanian, serta memperluas jejaring antarpetani.
“Siapa pun petani yang usianya di bawah 39 tahun masuk kategori petani milenial. Jangan ragu untuk bergabung di Duta Petani Milenial, karena di sinilah tempat kalian untuk mencurahkan keluh kesah, baik kendala teknis maupun nonteknis di dunia pertanian,” ujarnya.
Ketua DPM Pekalongan periode 2026–2028, Handono Warih, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia berkomitmen menjadikan DPM sebagai wadah yang mampu menjembatani aspirasi petani kepada pemerintah sekaligus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak.
“Terima kasih atas kepercayaan teman-teman yang telah menyerahkan amanah ini kepada saya. Insyaallah saya akan berusaha semaksimal mungkin sesuai kemampuan saya. Saya ingin Duta Petani Milenial menjadi wadah yang menyampaikan suara dan keluhan petani kepada pemerintah daerah serta bersinergi dengan semua pihak demi memajukan pertanian di Kabupaten Pekalongan,” ungkapnya.
Dalam waktu dekat, Handono menargetkan peningkatan edukasi bagi petani muda, pendataan penyakit tanaman, hingga pengelompokan potensi usaha para anggota agar lebih mudah mendapatkan pendampingan dan pengembangan dari instansi terkait.
“Yang jelas kami akan melibatkan masyarakat, khususnya petani muda, untuk bersinergi bersama kami. Kami juga akan melakukan clustering atau pengelompokan karya dan usaha teman-teman petani muda agar bisa dibantu pengembangannya oleh pihak terkait,” jelasnya.
Ia menambahkan, masyarakat yang ingin bergabung dapat menghubungi Duta Petani Milenial Kabupaten Pekalongan melalui akun Instagram resmi organisasi tersebut.
Ke depan, pihaknya juga menargetkan terbentuknya Duta Petani Milenial di setiap kecamatan sebagai penghubung antara petani di tingkat desa dengan pemerintah daerah.
Salah satu anggota Duta Petani Milenial asal Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Puji Surwanoto, berharap DPM semakin banyak menghadirkan program pelatihan dan membuka akses kerja sama dengan berbagai sektor.
“Semoga kepemimpinan yang selanjutnya membawa dampak yang lebih baik untuk petani-petani di Kabupaten Pekalongan, khususnya petani muda yang sedang merintis di bidang pertanian,” katanya.
Ia juga mengajak petani muda untuk tidak berjalan sendiri dalam mengembangkan usahanya.
“Jangan takut sendiri dan jangan menjadi katak dalam tempurung. Kita harus terbuka dengan dunia luar, mengenal banyak teman yang juga bertani supaya kita semakin baik dalam bertani. Jadi, jangan ragu untuk bergabung bersama kami,” pungkasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Ulfa






























