PATI, Lingkarjateng.id – Momentum 10 Muharam atau Hari Asyura tidak hanya menjadi pengingat peristiwa bersejarah dalam perjalanan Islam, tapi juga menjadi sarana refleksi moral bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Pada hari yang dikenal sebagai peringatan gugurnya Sayyidina Husain bin Ali RA, cucu Nabi Muhammad SAW, berbagai pesan tentang kejujuran, loyalitas, dan kewaspadaan terhadap perilaku tercela kembali digaungkan.
Peristiwa Karbala yang terjadi pada 10 Muharram 61 Hijriah atau 10 Oktober 680 Masehi menjadi salah satu tragedi paling bersejarah dalam Islam.
Dalam peristiwa tersebut, Sayyidina Husain bin Ali RA gugur bersama para pengikutnya saat mempertahankan prinsip dan kebenaran di tengah konflik politik kekuasaan yang terjadi pada masa itu.
Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Jawa Tengah sekaligus Owner Lingkar Media Group dan Lingkar Jateng Group, Agus Sunarko, menilai Hari Asyura memiliki banyak pelajaran yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini, terutama di tengah derasnya arus informasi di era digital.
Menurutnya, generasi milenial dan Gen Z perlu diajak untuk tidak sekadar mengenang sejarah, tapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Salah satu pesan penting yang dapat dipetik adalah menghindari perilaku pengkhianatan, fitnah, maupun sikap “menggunting dalam lipatan” dan “nabuk nyilih tangan” atau disebut juga lempar batu sembunyi tangan, yang dapat merusak hubungan sosial.
“Momentum 10 Muharram ini mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi milenial dan Gen Z, untuk belajar, mengingat kembali, dan merenungkan peristiwa gugurnya cucu Rasulullah SAW,” ujarnya pada Kamis, 25 Juni 2026.
Dari sejarah itu, kata Agus, generasi muda bisa mengambil pelajaran agar selalu eling lan waspada terhadap perbuatan-perbuatan tercela seperti menggunting dalam lipatan maupun lempar batu sembunyi tangan.
“Tantangan saat ini tidak lagi hanya terjadi dalam kehidupan nyata, tetapi juga di ruang digital,” ucapnya.
Kehadiran media sosial yang memberikan kemudahan dalam menyebarkan informasi sering kali dimanfaatkan untuk menyebarkan hoaks, potongan informasi yang menyesatkan, hingga narasi yang menyinggung perasaan dan aib seseorang.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi.
Menurutnya, sebuah konten harus dipahami secara utuh sebelum seseorang mengambil kesimpulan atau memberikan penilaian.
“Di tengah disrupsi digital, banyak sekali konten yang berisi hoaks maupun misinformasi. Biasakan melihat dan memahami konten secara lengkap, jangan hanya sepotong-sepotong. Karena makna pesan yang diterima pembaca bisa berbeda antara yang dipahami secara utuh dan yang hanya dipotong sebagian,” pesannya.
Melalui refleksi Hari Asyura, Agus berharap masyarakat semakin mengedepankan kejujuran, kehati-hatian, serta sikap kritis dalam menyikapi berbagai informasi.
“Nilai-nilai ini penting untuk menjaga persatuan sekaligus membangun budaya digital yang sehat di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat,” pungkasnya.
Jurnalis: Fahtur Rohman
Editor: Sekar































