SEMARANG, Lingkarjateng.id – Kecamatan Semarang Utara masih menjadi wilayah dengan angka kasus stunting tertinggi di Kota Semarang.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Abdul Hakam, mengungkapkan bahwa kawasan tersebut hingga saat ini tercatat memiliki angka stunting tertinggi dibanding kecamatan lain di wilayah setempat.
“Wilayah Semarang Utara ini saat ini paling tinggi kasus stunting-nya. Disusul oleh wilayah Semarang Selatan. Jumlahnya masih ratusan,” ujarnya di Semarang, Senin, 20 Oktober 2025.
Ia menilai penyebab tingginya angka stunting di Kecamatan Semarang Utara sangat kompleks. Faktor-faktor yang memengaruhi antara lain pola asuh, kondisi lingkungan, serta pemenuhan nutrisi pada ibu hamil dan anak.
“Banyak ibu hamil yang mengalami anemia atau kekurangan energi kronik. Ini menjadi salah satu penyebab anak lahir berisiko stunting,” jelasnya.
Hakam mengatakan bahwa pihaknya telah menjalankan berbagai program peningkatan literasi kesehatan bagi remaja dan calon pengantin.
Salah satunya melalui program ‘Tujuh Bintang’ yang mendorong kader kesehatan melakukan deteksi dini terhadap perempuan usia produktif yang mengalami anemia atau kekurangan energi.
“Kalau remajanya dan ibu-ibunya memiliki literasi yang baik, mereka akan sadar pentingnya kesehatan sebelum menikah. Misalnya, kalau lingkar lengannya kurang dari 23 cm atau kadar Hb di bawah 11, maka bisa segera diperbaiki sebelum hamil,” ujarnya.
Untuk menekan angka stunting, Dinkes Kota Semarang bersama berbagai pihak terus melakukan berbagai upaya intervensi.
Salah satunya melalui pendirian Rumah Sehat di Kelurahan Tanjung Mas, yang diinisiasi oleh Pertamina sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Menurut Hakam, program ini merupakan pengembangan dari keberhasilan Rumah Sigap di Kelurahan Bendan Duwur, yang sebelumnya diinisiasi oleh Yayasan Tanoto Foundation
“Karena sukses di sana, maka kita membuat konsep yang sama di Tanjung Mas. Rumah Sehat ini diperuntukkan bagi balita-balita yang berisiko ke arah stunting,” jelasnya.
Ia menjelaskan, fokus utama pemerintah saat ini adalah melakukan treatment bagi balita yang sudah stunting, sekaligus mencegah agar balita berisiko tidak menjadi stunting.
“Intervensi kita dua arah. Selain pencegahan, kita juga menangani yang sudah terjadi,” tegasnya.
Selain memberikan layanan bagi balita, Rumah Sehat Tanjung Mas juga akan menjadi pusat kegiatan edukatif bagi ibu dan remaja.
Kegiatan yang dilakukan meliputi kelas pengasuhan balita, peningkatan literasi gizi untuk orang tua, serta pendampingan remaja dalam menjaga kesehatan.
“Kita sasar tiga kelompok sekaligus, yaitu balita, orang tua, dan remaja. Harapannya, seluruh keluarga sadar akan pentingnya pencegahan stunting sejak dini,” tambahnya.
Hakam pun menyambut baik keterlibatan pihak swasta seperti Pertamina dalam mendukung program tersebut.
“CSR dari pihak ketiga ini sangat membantu. Kita arahkan agar bantuan benar-benar menyasar wilayah yang membutuhkan, terutama di daerah dengan angka stunting tinggi,” katanya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid































