PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Warga Desa Kalipancur Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, menggelar acara selapanan desa dalam rangka sedekah bumi, Senin (20/5, dikenal sebagai Legenonan.
Tradisi ini digelar setiap bulan Legeno atau bulan ke 11 menurut kalender Jawa atau bulan Dzulqaidah dalam kalender Islam.
Legenonan menjadi momen penting bagi warga desa untuk berdoa bersama demi kesuburan bumi dan kesehatan warga.
Acara yang berlangsung di balai desa tersebut, dihadiri oleh seluruh warga Kalipancur. Mereka berkumpul untuk berdoa bersama dan berbagi hasil bumi sebagai simbol kebersamaan dan solidaritas.
Kegiatan ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan sosial dan rasa kebersamaan di antara warga desa.
Kepala Desa Kalipancur, Muhroji, menyatakan bahwa acara ini bukan sekadar ritual, tetapi juga ajang silaturahmi yang memperkuat persatuan dan kerja sama antarwarga demi kemajuan desa.
“Kami berharap dengan momen ini, kita dapat semakin kompak dalam menjaga keutuhan desa serta meningkatkan kesejahteraan bersama,” ungkapnya.
Muhroji menambahkan bahwa tradisi ini juga menjadi sarana untuk mengajarkan generasi muda tentang pentingnya menjaga warisan budaya dan semangat gotong royong.
Dalam acara ini, terdapat 300 nampan nasi dan lauk-pauk yang disajikan secara swadaya oleh masyarakat desa.
Makanan tersebut kemudian dibagikan kepada sesama warga sebagai simbol berbagi dan kebersamaan yang menjadi ciri khas acara ini.
Setiap keluarga dengan sukarela menyumbangkan apa yang mereka miliki. Selain berbagi makanan, acara ini juga diisi dengan kegiatan kesenian tradisional Pagelaran Wayang Golek, Dengan menghadirkan Dalang, Ki Gondrong Wiyono, dengan Lakon Pangeran Caping, yang digelar semalaman suntuk.
Selain itu, aneka macam hadiah kejutan juga turut memeriahkan acara tersebut seperti kipas angin, sepeda berupa 2 ekor kambing. (Fahri Akbar/Lingkarjateng.id)






























