Demak (lingkarjateng.id) – Lika-liku perjalanan Mulyono (41), pengrajin batik asal Kabupaten Demak, dalam mengembangkan usaha batik tidak berlangsung singkat. Berawal jadi buruh serabutan dan terbatasnya modal, ia menekuni usaha batik dan kini mampu mengembangkannya.
Usaha yang diberi nama Batik Sari Mulyo itu berada di Jalan Raden Sahid, Kadilangu, RT 02/RW 04, Kabupaten Demak. Di tempat tersebut, Mulyono mempekerjakan sekitar 12 orang dan memproduksi berbagai jenis batik, termasuk motif khas Demak seperti Masjid Agung Demak, jambu, belimbing, dan jagung.
Sebelum menjadi pengrajin batik, Mulyono sempat bekerja serabutan, mulai dari memasang galvalum, bekerja di proyek bangunan, menjadi tukang kayu. Selain itu, ia juga pernah bekerja di sebuah apotek selama sekitar 11 tahun.
Setelah keluar bekerja di apotek, Mulyono sempat kebingungan mencari pekerjaan. Ia lalu bertemu dan cerita kepada temannya seorang pembatik dan memiliki usaha batik bernama Yanto. Tak disangka, pertemuan itu menjadi titik awal perjalanannya ikut menekuni dunia batik.
Saat ngobrol dan curhat dengan Yanto kemudian Mulyono disarankan untuk mencoba membuka usaha batik. “Terus Pak Yanto bilang gini sama saya. Saya lihat kamu cocok dan bisa membatik,” kenang Mulyono mengingat perkataan temannya tersebut.
Ikut Pelatihan Membatik
Kesempatan belajar pun datang ketika ada pelatihan membatik di Lasem sekitar awal 2020. Dia diminta Yanto untuk mengikuti pelatihan tersebut. Selama 4 hari, ia serius mempelajari dasar-dasar membatik. Mulai dari mengenal kain, malam, pewarna, hingga proses pembuatan batik.
“Nah suatu hari, sekitar tahun 2020, ada pelatihan membatik dari dinas, lokasi di Lasem. Saya diminta Pak Yanto untuk mewakili dia. Saya berangkat mengikuti pelatihan, disana saya serius belajar selama 4 hari di sana. Dulu masih covid, pelatihannya masih pakai masker,” ceritanya.
“Di sana, saya pertama kali mengenal bahan-bahan untuk batik ya disana, kayak kain, malam, pewarna dan lain sebagainya. Disana saya belajar serius sungguh sungguh pengen bisa membatik,” sambungnya.
Pelatihan tersebut membuat Mulyono semakin yakin untuk menekuni batik sebagai usaha. Namun, memulai usaha bukan perkara mudah. Keterbatasan modal menjadi kendala pertama yang harus dihadapinya.
Usai mengikuti pelatihan, Mulyono diminta Yanto membuat meja yang menjadi salah satu sarana utama dalam proses membatik. Namun, pembuatan meja tersebut membutuhkan waktu hingga sekitar enam bulan karena Mulyono tidak memiliki cukup uang untuk membeli material.
Saat itu, Mulyono masih serambi bekerja sebagai tukang galvalum untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sedikit demi sedikit ia menyisihkan uang untuk membeli material yang dibutuhkan hingga akhirnya meja tersebut selesai dibuat.
Setelah peralatan siap, persoalan modal kembali menghadang. Untuk membeli bahan baku, Mulyono terpaksa meminjam uang sekitar Rp5 juta dari iparnya. Namun, dana tersebut belum mencukupi untuk membeli seluruh kebutuhan produksi.
Melihat kondisi tersebut, Mulyono kembali dibantu oleh temannya dengan meminjamkan sejumlah bahan baku. Jika ditotal, bantuan bahan yang diberikan mencapai sekitar Rp8 juta. “Pak Yanto bilang, bawa saja. Yang penting punya kamu bisa produksi dulu,” ujar Mulyono.
Dengan modal seadanya, Mulyono pun mulai memproduksi batik. Namun, hasil produksi pertamanya belum sesuai harapan. Kualitas batik yang dihasilkan masih kurang maksimal, mulai dari hasil cap yang belum rapi hingga perpaduan warna yang belum sesuai.
Produksi pun belum langsung mendatangkan keuntungan. Bahkan, beberapa kali usaha batiknya terhenti selama satu hingga dua bulan karena keterbatasan modal dan produk sebelumnya belum terjual.
“Pertama kali produksi itu, barang hasil nya nggak laku dijual, karena saat itu memang kualitas kurang maksimal, kayak hasil cap nya ngga bisa rapi, perpaduan warnanya ngga bisa bagus. Saya juga menyadari, kok kayak gini hasilnya,” ungkapnya.
Di tengah kondisi tersebut, Mulyono tetap berusaha bertahan. Ia masih bekerja memasang galvalum dan menggarap sawah milik orang tuanya. Hasil dari pekerjaan tersebut sebagian digunakan untuk membeli kain dan bahan baku batik.
Mulyono mengaku, saat itu dirinya terus berkomunikasi dan selalu diberikan motivasi oleh temannya agar tidak berhenti belajar. Sedikit demi sedikit, ia memperbaiki kualitas produknya. Meski memproduksi hanya tiga hingga lima potong, ia kerjakan secara bertahap.
Hasil produk batiknya kemudian dititipkan untuk dipasarkan. Meski pada awalnya belum banyak pesanan, Mulyono akhirnya mulai mendapatkan kepercayaan konsumen. Pesanan pertama dalam jumlah cukup banyak datang dari Puskesmas Karangtengah.
Saat itu, Mulyono mendapat pesanan sebanyak 60 potong batik yang dikerjakan berdasarkan sampel dari temennya. Pesanan tersebut menjadi suntikan semangat bagi Mulyono untuk mengembangkan usahanya.
“Pesanan pertama itu dari Puskesmas Karangtengah, pesen 60 potong, saya kerjakan tapi dari sampelnya Pak Yanto. Saat itu saya seneng banget, tambah semangat,” ujarnya.
Butuh Modal
Setelah produk mulai diterima pasar, Mulyono memberanikan diri mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp100 juta. “Singkat cerita, saya ke bank untuk buat rekening, tujuannya untuk belanja lewat transfer. Tapi di sana saya ditawari pinjaman KUR,” ujarnya.
Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli bahan baku dan mengembangkan produksi. Meski sempat mengalami kendala dalam membayar angsuran karena pendapatan yang naik turun, Mulyono perlahan mampu melewatinya.
“Uang pinjaman itu tak maksimalkan buat beli bahan-bahan membatik,” katanya.
Seiring bertambahnya pesanan, ia merasa mulai membutuhkan tenaga tambahan. Mulyono awalnya meminta bantuan teman-temannya di Demak dan Jepara. Bahkan, ia rela mengantar bahan dan hasil garapan ke sejumlah tempat meski harus pulang larut malam.
“Singkat cerita, Alhamdulillah ada pesenan masuk terus. Tapi ya pusing juga, karena tadi harus kesana kemari antar garapan ya pusing juga. Jadi saya putuskan menambah karyawan,” katanya.
Menambah Pekerja
Pada akhir 2024, Mulyono mulai merekrut karyawan meski jumlahnya masih terbatas. Memasuki 2025, kebutuhan tenaga kerja semakin bertambah seiring meningkatnya pesanan. Kini, sekitar 12 karyawan, baik laki-laki maupun perempuan, membantu proses produksi Batik Sari Mulyo.
Menurut Mulyono, mengajarkan keterampilan membatik kepada orang lain bukan perkara mudah. Tidak semua orang memiliki ketekunan untuk menjalani proses tersebut. “Karena itu, saya gaji sistem harian agar para pekerjanya tetap memiliki semangat dan betah untuk bertahan menekuni batik di tempatku,” katanya.
Jika dahulu produksi hanya dilakukan ketika ada pesanan, kini Mulyono mulai rutin memproduksi batik meski tidak selalu ada pesanan. Hasil produksi tersebut disiapkan sebagai stok.
Untuk memperkenalkan produknya, Mulyono juga memanfaatkan berbagai kegiatan dan pameran. Pada awal merintis, ia bahkan beberapa kali memberikan produk untuk mendukung kegiatan sebagai bagian dari promosi.
Meski langkah tersebut sempat terasa berat karena kondisi modal yang terbatas, promosi dari berbagai kegiatan perlahan membuat produk Batik Sari Mulyo semakin dikenal. Komunitas Batik Demak juga turut menjadi salah satu ruang promosi bagi produknya.
“Tapi ya memang buat saya berat, pas waktu nggak punya modal, diminta seperti itu, mau tak tolak ya eman-eman tapi saya iya kan juga berat. Karena kendalanya minim modal itu tadi. Kemudian juga ada event pameran melalui stand pameran. Tapi tetep tak paksakan, akhirnya dari bentuk promosi seperti itu produk saya memang menjadi dikenal. Saat itu memang saya rugi, tapi untuk Dampak kedepan itu memang ada, alhamdulillah saya ya untung,” bebernya.
Selain itu, berbagai kegiatan yang digelar Pemerintah Kabupaten Demak turut memberikan kesempatan bagi Mulyono untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat. Mayoritas pesanan Batik Sari Mulyo masih dari lokal, kini merambah dari luar daerah mulai berdatangan.
Mulyono mempertahankan ciri khas Demak melalui sejumlah motif, seperti Masjid Agung Demak, jambu, belimbing, dan jagung. Selain motif khas daerah, ia juga memproduksi motif umum sesuai permintaan konsumen.
Untuk batik cap dengan ukuran sekitar dua meter, produknya dibanderol mulai kisaran Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per potong.
Bagi Mulyono, perjalanan panjang tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan modal bukan alasan untuk berhenti berusaha. Ia mengaku banyak belajar dari kegagalan produksi, minimnya modal, hingga sepinya pesanan.
Dukungan orang-orang di sekitarnya, terutama Yanto, juga menjadi bagian penting dalam perjalanan usahanya. “Kalau tidak ada teman saya, Pak Yanto, mungkin saya sudah bingung. Dia yang terus memberi semangat dan membantu ketika saya kekurangan bahan,” ungkapnya.
Kini, dari usaha yang dirintis dengan keterbatasan, Mulyono tidak hanya mampu bertahan sebagai pengrajin batik, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Usaha batiknya pun terus dikembangkan dengan harapan semakin dikenal sebagai salah satu produk batik khas Kabupaten Demak. (Lingkar Network/Burhan)***
Editor : Adi Arfian






























