Demak (lingkarjateng.id) – Memasuki masa tanam kesatu (MT-1), para petani di sejumlah wilayah di Kabupaten Demak mulai mempersiapkan pengolahan lahan. Hal itu menyusul dibukanya Waduk Kedungombo sejak 15 September lalu, yang mengairi areal persawahan.
“Melalui hasil koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, pasokan air dari Waduk Kedungombo diproyeksikan mampu mendukung kebutuhan pengolahan lahan hingga pelaksanaan MT-1,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Demak, Agus Herawan, Selasa (22/9).
Menurut Agus, sejumlah wilayah yang mulai mendapatkan aliran air di antaranya Kecamatan Dempet, Gajah, Mijen, Wonosalam, dan Demak. Di wilayah tersebut, petani mulai mengolah lahan sebagai persiapan penebaran benih.
“Sekarang air sudah mulai masuk ke persawahan di beberapa wilayah dan petani mulai mengolah lahan untuk persiapan penyebaran benih,” tuturnya.
Agus menyebut, meski kemarau masih berlangsung, namun bulan September ini merupakan periode persiapan menuju MT-1. Sehingga, ketersediaan air menjadi faktor penting untuk memastikan musim tanam dapat berjalan sesuai jadwal dan tidak mengalami kemunduran.
Berdasarkan prediksi cuaca, kata Agus, hujan diperkirakan mulai turun di wilayah Demak pada awal November. Sehingga, adanya hujan diharapkan dapat menjadi tambahan pasokan air bagi lahan pertanian saat gelontoran dari Waduk Kedungombo mulai berkurang.
“Memang walaupun masih kemarau, sudah waktunya MT-1 di bulan September. Waduk Kedungombo sepertinya cukup untuk memenuhi ketersediaan air untuk MT-1. Mudah-mudahan sesuai prediksi BMKG, awal November hujan sudah turun,” terangnya.
Pada MT-1 tahun ini, Pemkab Demak menargetkan luas tanam mencapai sekitar 43 ribu hektare. Distribusi air dari Waduk Kedungombo dilakukan bertahap dan bergiliran karena pasokan harus memenuhi kebutuhan pertanian di wilayah lain serta kebutuhan air masyarakat.
“Air ini bergiliran. Sementara baru sampai wilayah Gajah dan Karanganyar, lalu Mijen dan Wedung. Untuk gelontoran sampai Wedung kemungkinan pertengahan Oktober. Karena air dari Waduk Kedungombo juga dibutuhkan untuk bahan baku air minum warga,” jelasnya.
Agus menambahkan, pemanfaatan air Waduk Kedungombo juga tidak hanya untuk Kabupaten Demak. Sejumlah daerah lain seperti Kudus, Grobogan, dan Pati juga bergantung pada pasokan dari waduk tersebut.
“Kondisi tersebut membuat penggunaan air secara efisien menjadi penting agar distribusi dapat menjangkau semua wilayah yang membutuhkan,” tukasnya.
Agus mengungkapkan untuk mendukung kesiapan MT-1, pihaknya juga menyiapkan sejumlah dukungan bagi petani. Di antaranya penyediaan benih, koordinasi dengan Pupuk Indonesia untuk memastikan ketersediaan pupuk, serta bantuan alsintan dari Kementerian Pertanian.
“Kami dari Dinas Pertanian juga memberikan dukungan berupa benih. Kemarin juga sudah rapat dengan Pupuk Indonesia terkait ketersediaan pupuk. Mudah-mudahan tercukupi dan tidak ada kelangkaan pupuk. Kemudian bantuan peralatan dari Kementerian Pertanian juga mulai berdatangan,” katanya.
Dengan dukungan pasokan air dan berbagai persiapan tersebut, pihaknya optimistis pelaksanaan MT-1 dapat berjalan sesuai jadwal. Namun, kelancaran musim tanam tetap bergantung pada ketersediaan air dan kondisi cuaca hingga memasuki musim penghujan. (Lingkar Network/Burhan).***
Editor : Adi Arfian
































