PATI, Lingkarjateng.id – Sumur warga Desa Plumbungan, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati berubah asin lantaran sumber air semakin menyusut hingga kekeringan pada musim kemarau 2026. Kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar tiga bulan.
Kondisi ini membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Air sumur berubah asin bahkan tak bisa diandalkan untuk keperluan mencuci baju. Warga hanya menggunakannya untuk mandi.
Ketua RT 01 RW 01 Desa Plumbungan, Sukawi, mengungkapkan kekeringan di daerahnya sudah terjadi sekitar tiga bulan bahkan sumber air berubah asin.
“Sekitar tiga bulanan. Air sumur juga berubah sejak tidak ada hujan sama sekali, berubah asin. Tapi kalau ada hujan air di sini rasanya normal,” terangnya.
Sukawi menyebut masyarakat tidak bergantung pada pengiriman bantuan air bersih. Warga biasanya juga membeli air bersih secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan harga Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per tangki. Satu tangki berisi sekitar 5.000 liter air.
“Pakai bantuan kalau ada. Kalau nggak ada masyarakat beli. Alhamdulillah hari ini ada bantuan,” uangkapnya.
Sebagai informasi pada Selasa, 29 September 2026 Bidpropam Polda Jawa Tengah mengirimkan bantuan air bersih ke tiga desa di Kecamatan Gabus.
“Kami memberikan bantuan di Desa Plumbungan, Pantirejo, dan Gebang. Semoga masyarakat antusias,” kata Panit Lidik Paminal Bidpropam Polda Jateng, AKP Aris.
AKP Aris menyebut bantuan air bersih yang didistribusikan ada enam tangki. Masing-masing desa menerima dua tangki.
“Ada enam tangki, kapasitas delapan ribu liter per tangka. Semoga bisa memberikan bantuan yang memadai,” ucapnya.
Sementara data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) per 25 September 2026 mencatat ada 45 desa yang terdampak kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Pati, Martinus Budi Prasetya, mengungkapkan wilayah terdampak kekeringan tersebar di sepuluh kecamatan. Selain itu, ada tiga desa yang kesulitan bersih bertambah. Dari data terbaru tersebut terdapat sekitar 45 desa yang terdampak kekeringan.
“Ada tiga desa yang baru di wilayah Kecamatan Batangan, Desa Pecangaan, Desa Kayusiwalan dan Desa Tlogomojo. Sedangkan di wilayah Pati sebelah utara, di wilayah Kecamatan Dukuhseti ada Desa Ngagel yang sudah kita atensi. Tetapi infonya, Desa Bakalan pun sudah mulai kesulitan air bersih,” terangnya, Jumat, 25 September 2026.
Martinus mengatakan jumlah desa yang mengalami kekeringan dimungkinkan bertambah. Hal ini mengacu data BMKG yang menyebut fenomena el nino tahun ini lebih kuat dari tahun lalu.
Jurnalis: Fahtur Rohman
Editor: Ulfa
































